Postingan

Menampilkan postingan dari September 18, 2016

Kinerja Penjualan 2016 Tumbuh, Anabatic Perkuat Layanan Core Banking dan Beberapa Lini Layanan Baru

Gambar
Meski secara umum perekonomian dan bisnis sedang melambat, perusahaan emiten TI terintegrasi PT Anabatic Technologies Tbk (ATIC) berhasil meningkatkan kinerja penjualannya pada Semester I 2016 ini, yakni tercatat sudah sebesar Rp 1,81 triliun. Dus, naik cukup besar dibanding penjualan periode sama tahun sebelumnya yang Rp 1,48 triliun.


Laporan keuangan perseroan menyebutkan beban pokok naik menjadi Rp 1,55 triliun dari beban pokok tahun sebelumnya yang Rp 1,25 triliun dan laba kotor naik menjadi Rp 252,93 miliar dari laba kotor periode sama tahun sebelumnya yang Rp 233,26 miliar. Adapun beban usaha naik menjadi Rp 189,69 miliar. Laba usaha turun sedikit menjadi Rp 63,24 miliar dibandingkan laba usaha periode sama tahun sebelumnya yang Rp 64,33 miliar. Laba bersih tahun berjalan mencapai Rp 29,68 miliar naik dari laba bersih tahun berjalan periode sebelumnya yang Rp 21,81 miliar. 


Dalam lima tahun terakhir kinerja PT Anabatic Technologies Tbk (ATIC) memang mengalami pertumbuhan bisnis…

Kinerja Penjualan Terseok, Laba Lippo Cikarang Terpangkas 34,7%

Emiten properti PT Lippo Cikarang Tbk (LPCK) juga tak bisa menghindar dari pukulan pelambatan bisnis di sektor properti yang menerjang pasar properti di Indonesia belakangan ini.  Tak bisa dipungkiri, hal ini tercermin dari penurunan laba yang cukup besar dari perusahaan itu, yakni sebesar 34,7 persen, pada semester I-2016. Pada periode enam bulan pertama 2016, anak usaha Lippo Group ini hanya mampu mengais laba Rp 354,6 miliar, turun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya Rp 477,86 miliar. 


Penurunan laba ini disebabkan melorotnya penjualan perseroan. Penjualan dan pendapatan usaha LPCK terseok, turun 12 persen menjadi hanya Rp 850,14 miliar dari sebelumnya yang sebesar Rp 952,36 miliar. Pada semester I-2016, segmen hunian atau residensial masih menjadi penopang terbesar dari nilai tersebut sebesar 44 persen. 


Diinformasikan, segmen residensial mengontribusi pendapatan Lippo Cikarang senilai Rp 381 miliar. Meski begitu pendapatan dari sektor residensial melempem, menurun 6 …

Jual 4 Perusahaan Kebun Sawit, Provident Agro Kantongi Rp 2,7 Triliun

Perusahaan emiten di bidang perkebunan sawit, PT Provident Agro Tbk (PALM) dikabarkan telah melakukan divestasi terhadap empat anak usahanya kepada PT Gelanggang Maju Bersama dan PT Mandhala Cipta Purnomo. Total nilai divestasi anak usaha itu mencapai Rp 2,7 triliun.
Dalam prospektus singkat seperti ditulis Rabu (13/7/2016), perseroan menjual saham empat anak usahanya antara lain PT Global Kalimantan Timur (GKM), PT Semai Lestari (SML), PT Nusaraya Permai (NP), dan PT Saban Sawit Subur (SSS). Penandatanganan jual beli dilakukan pada 24 Juni 2016. Provident Agro merupakan perusahaan perkebunan sawit hasil kongsi dua perusahaan private equity papan atas di Indonesia, yakni Provident Capital dan Saratoga Capital. Selain berkongsi di bisnis perkebunan sawit, kedua group ini juga berkongsi di bisnis tower telekomunikasi melalui PT Tower Bersama Tbk.
Yang jelas, dalam divestasi ini, PT Provident Agro Tbk menjual saham PT Global Kalimantan Timur (GKM) dan PT Semai Lestari kepada PT Gelangga…

Strategi Akuisisi Membuahkan Hasil, Kinerja Laba dan Penjualan Tiga Pilar (AISA) Melonjak

Sesuai laporan keuangan semester I/2016 yang dipublikasikan (23/8/2016), PT Tiga Pilar Sejahtera Food, Tbk (TPSF) berhasil mengumpulkan laba senilai Rp 255,96 miliar. Perolehan tersebut naik 30,62% dibandingkan dengan laba di periode yang sama 2015 yang  sebesar Rp 195,96 miliar.


Kenaikan laba bersih seiring pertumbuhan pendapatan perseroan. Sepanjang semester I/2016, Tiga Pilar meraih pendapatan Rp3,57 triliun atau naik 12,97% dibandingkan dengan penjualan dan pendapatan usaha di periode sama 2015, yakni senilai Rp3,16 triliun.


Adapun, beban pokok penjualan dan pendapatan naik tipis menjadi Rp2,69 triliun dari Rp2,54 triliun di semester I/2015. Beban penjualan dan beban umum serta beban administrasi juga terlihat naik dengan kenaikan masing-masing 19,78% dan 44,06%.


PT Tiga Pilar Sejahtera Food, Tbk (TPSF) merupakan perusahaan publik yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia sejak tahun 2003 yang pada awalnya hanya bergerak di bisnis makanan (TPS Food). Sejalan dengan proses transforma…

Diantara Penyebab Gagal Berwirausaha

"Banyak yang tidak menyadari, hambatan kultural, mental atau psikologis seringkali menjadi kendala atau bahkan menjadi pemicu kegagalan dalam merintis usaha. Contohnya perasaan gengsi. Sebagai entreprenuer, kalau mau sukses harus bersedia terjun ke lapangan, bersedia menawarkan ini-itu. Bisnis tak akan berjalan kalau urusan gengsi menjadi pertimbangan utama.

Sindrom itu terutama akan menjangkiti pengusaha pemula yang sebelumnya merupakan seorang profesional atau karyawan mapan. Biasanya ada perasaan gengsi untuk turun ke bawah. Bayangkan, sebelumnya tiap hari pergi kemanapun selalu memakai mobil bagus, tiba-tiba harus naik taksi atau malah naik kendaraan umum tanpa memakai dasi. Lebih jauh hal ini bisa membuat yang bersangkutan menjadi minder bila bertemu teman atau relasinya sehingga merasa memulai usaha sebagai sesuatu yang amat berat dan menyiksa. Padahal orang lain belum tentu melihat penampilannya. Yang penting cara kerja dan kemampuannya.

Tingginya tingkat pendidikan serin…

Inilah Alasan Mengapa Lebih Baik Memulai Merintis Usaha Saat Masih Muda

Merintis usaha atau memasuki dunia entrepreneur memang bisa dimulai disaat usia berapapun, termasuk saat sudah usia diatas 45 tahun. Ada juga yang sukses usaha justru ketika ia sudah diatas 45 tahun. Toh demikian, kalau kita berpikir resiko dan energi, bagaimanapun juga tetap lebih baik memulai usaha ketika usia muda (dibawah 40 tahun). Bila berpikir resiko, memulai usaha saat masih muda punya beberapa kelebihan. Ketika masih muda, biasanya energi dan sumberdaya yg dimiliki yang masih bisa lebih total dicurahkan untuk perintisan usaha.

Contohnya soal modal uang, permodalan kita bisa fokus untuk bisnis. Namun kalau mulai usaha saat anak-anak mulai membutuhkan biaya pendidikan dll, biasanya lebih ribet. Pokoknya ketika anak-anak mulai besar banyak kebutuhan deh. Usia muda biasanya juga lebih mobil untuk melakukan terobosan kesana-kemari. Katakanlah harus merintis pengembangan jaringan (network) bisnis hingga harus keluar ke berbagai kota dan harus nginap kesana kemari, juga masih lebih…

Pentingnya Jangan Berguru Kepada Satu Guru / Mentor Dalam Berbisnis

Beberapa waktu lalu saya membaca keluhan salah seorang peserta mailing list yang mengomentari soal adanya beberapa pemula usaha yang merasa 'tersesat' karena mengikuti kiat yang dianjurkan oleh seorang mentor kewirausahaan. Orang itu mengatakan telah banyak para peminat wirausaha yang akhirnya terjerembab dan punya hutang bahkan hingga miliaran rupiah karena mengikuti 'kiat berbisnis sebaiknya menggunakan uang orang lain sebagai modal alias utang. Intinya, dianjurkan bahwa berwirausaha itu harus berani dan modalnya pakai duit orang lain. Prinsip ini, katanya, telah membuat orang menjadi 'amat-berani' untuk berhutang kepada pihak lain untuk meraih permodalan. Tapi ya itu tadi, AKHIRNYA banyak yang gagal dan meninggalkan hutang dari yang puluhan juta, ratusan juta, bahkan ada yang hingga miliaran. Saya tentu ikut prihatin dan sedih bagi yang kena musibah itu.

Sebagai orang yang bersimpati kepada para peminat wirausaha saya hanya ingin memberikan sedikit masukan berd…

Kiprah Robin Besarkan Usaha Furniture Mewah Veranda

Sabtu lalu Arini Arianti (45 tahun) begitu riang. Setelah setahun dikerjakan, rumah mewahnya senilai Rp 2,4 miliar di BSD City, Serpong, akhirnya berdiri tegak. Namun, aha..., masih ada yang kurang. Untuk menyempurnakannya, ia pun bergegas ke Jl. Fatmawati. Di ruang pajang Veranda, dipesannya tiga bedroom set dan furnitur ruang tamu.
Sebenarnya, kepergiannya ke kawasan Jakarta Selatan itu terbilang mendadak karena ia baru membaca iklan furnitur Veranda pagi itu di sebuah harian Ibu Kota. Gerai ini dipilihnya karena pertimbangan yang simpel: mudah diakses dari BSD, hanya 30 menit via tol Simatupang. Dan ternyata, setelah datang serta melihat-lihat, ia menemukan sejumlah barang interior yang dicarinya.
Arini hanyalah satu di antara sejumlah keluarga menengah-atas Jabodetabek yang sudah mencoba produk Veranda. Sebetulnya, bagi sebagian kalangan menengah-atas Jabodetabek -- khususnya yang menyukai furnitur gaya klasik -- nama ini tak terlalu asing karena memang termasuk pemain besar di b…