Kamis, 06 Oktober 2016

Kinerja Jababeka Kinclong, Laba Tumbuh Fantastik dan Agresif Kembangkan Bisnis Baru




Laba PT Kawasan Industri Jababeka Tbk. (KIJA) sepanjang semester I/2016 naik 30,41% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Sesuai laporan keuangan semester I/2016 yang sudah dipublikasikan (9/8/2016), perseroan mencatat laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 325,78 miliar atau naik 30,41% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu senilai Rp249,81 miliar.



Peningkatan laba Jababeka didorong oleh sejumlah beban perseroan yang bisa ditekan. Sepanjang semester I/2016, perseroan mencatat penjualan dan pendapatan jasa senilai Rp 1,36 triliun. Pencapaian tersebut turun 7,48% dari periode yang sama 2015 senilai Rp1,47 triliun.


Namun demikian, perseroan cukup smart dan berhasil dapat menekan sejumlah beban biaya. Mulai dari beban keuangan yang turun 56,98% menjadi Rp169,59 miliar dari Rp394,22 miliar pada semester I/2015. Kemudian, beban pajak final juga turun menjadi Rp10,60 miliar dari Rp28,38 miliar.


PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA) terus akan ekspansi mengembangkan bisnis-bisnis dan proyek barunya yang sudah ada dalam pipeline untuk pengembangan. Antara lain, Jababeka sudah menyiapkan dana sebesar US$ 10-20 juta untuk membangun infrastruktur kawasan industri di Kendal, Jawa Tengah. Direktur Utama Jababeka Budiyanto Liman mengatakan, perseroan bekerjasama dengan perusahaan asal Singapura, Sembawang Corporation, untuk mengembangkan kawasan industri tersebut. Luas tanah yang akan digarap seluas 2.000-3.000 hektare (ha).



“Tahap awal, kami akan kembangkan sekitar 860 ha. Sekarang dalam tahap pengembangan infrastruktur,” ujar Budiyanto di Jakarta, Selasa (20/10). Dia melanjutkan, secara spesifik, infrastruktur yang akan dibangun meliputi jalan, pemadatan tanah, dan menyiapkan pasokan air bersih maupun untuk air limbahnya. “Pokoknya kami bangun infrastruktur supaya para investor yang ingin membangun pabrik sudah bisa beroperasi termasuk listrik dan lainnya,” ujar Budiyanto.



Untuk pasokan listrik, perseroan berencana membangun pembangkit listrik (power plant) untuk memenuhi kebutuhan kawasan industri. Namun, dia belum bisa menyebutkan berapa kapasitasnya. Dia mengakui, untuk proyek pengembangan kawasan industri Kendal, saat ini sudah banyak perusahaan yang akan menempati kawasan tersebut. Hal ini didukung dari harga tanah yang lebih murah dan dari segi upah pekerja masih relatif lebih rendah dibandingkan kawasan industri Jababeka lainnya.



“Dari segi labour cost di Jawa Tengah masih lebih rendah dibandingkan Bekasi. Hal ini menjadi daya tarik investor terutama bagi yang labour intensif, seperti tekstil,” ujar Budiyanto. Sementara itu, untuk pembebasan lahan, perseroan menghabiskan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar Rp 600 miliar tahun ini. Dana tersebut 100 persen berasal dari kas perseroan. Sementara itu, untuk kawasan Kendal, bakal menghabiskan dana sebesar Rp 400 miliar. Capex yang paling besar memang digunakan untuk pembebasan lahan di Kendal. 



Jababeka juga terus melanjutkan pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata Pulau Morotai seluas 1.200 hektar. Melalui anak usahanya, PT Morotai Jababeka berhasil menggandeng mitra dari Taiwan untuk membangun amenitas dan atraksi di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata tersebut.



Pada tahap awal, dikabarkan, PT Morotai Jababeka, membangun 10 ribu rumah dengan pangsa pasar kelas menengah, serta hotel-hotel dengan kapasitas 100 ribu kamar. Tahap berikutnya, PT Morotai Jababeka membangun tempat pariwisata, sekolah yang akan menyuplai sumber daya manusia (SDM), dan lainnya. Raksasa properti ini juga akan mengembangkan pertanian, perikanan, dan perdagangan. 



PT Morotai Jababeka siap menggelontorkan investasi Rp 6,8 triliun. Dana sebanyak itu berasal dari investasi sendiri, dan sejumlah investor. Andrew Hsia, kepala Perwakilan Perdagangan dan Ekonomi Taipei di Indonesia (TETO), berjanji akan mengembangkan budi daya ikan, pertanian, pariwisata, dan perbankan di Morotai. Ia memperkirakan akan ada pergerakan banyak orang ke Morotai untuk bekerja di bidang perikanan, eko-turisme, dan infrastruktur.