Jumat, 23 September 2016

FoxLogger, Makin Ngetop di Bisnis Layanan GPS Tracking




Bisnis GPS tracking belakangan ini memang tumbuh makin baik. Baik dari sisi produk hadrware-nya maupun sistem komunikasi yang menyambungkannya. Tak heran bisnis ini juga memunculkan pemain baru yang eksis seperti FoxLogger. FoxLogger didirikan Alamsyah Cheung dan Daren Suciono tahun 2015 lalu. Kini pertumbuhan bisnisnya cukup meyakinkan.



Sederet klien korporasi dan lembaga pemerintahan berhasil digaetnya. "Konsumen terbesar kami saat ini dalah Pemprov DKI Jakarta. Mereka butuh sistem untuk memantau pergerakan truk sampah, nah itu pakai aplikasi dan hardware kami. Untuk memantau 1.000 truk sampah di DKI,"  ungkap Alamsyah Cheung dengan penuh semangat. Sementara itu, dalam deretan klien swasta misalnya Group Mayora, Orang Tua Group, Kapal Api, dan Indofood.



FoxLogger dirintis Alamsyah dan Darren sejak 2015. Sebelumnya Alamsyah sendiri sudah berbisnis distribusi GPS yang ia bangun sejak tahun 2010, namun sayang ia mendapatkan partner yang kurang jujur sehingga kerja kerasnya bertepuk sebelah tangan. Ia bekerja keras dan sukses meraih banyak penjualan namun pihak lain yang menikmatinya. Karena itu ia tertarik mendirikan usaha sendiri, meski memulai dari skala kecil. Niatnya didukung saudaranya, Daren Suciono yang ahli dalam digital marketing dan IT.



Dengan keluwesan dan luasnya jaringan yang dimiliki Alamsyah kemudian berhasil bangkit pelan-pelan. Ia berhasil meyakinkan vendor hardware mitranya, operator seluler dan juga penyedia sistemnya. "Saya percaya, kalau kita jujur dan kerja keras, pasti ada jalannya," ungkap Alamyah yang lulusan S2 London School Jakarta ini.



Ia tertarik berbisnis ini karena peluangnya cukup baik seiring dengan tren bisnis logistik sedang meningkat. Ia percaya,  alat GPS sangat dibutuhkan untuk mengontrol pergerakan armada dan aset. "Kalau perusahaan mau mengontrolnya lewat telepon, kan mahal biaya! Lalu akurasinya? Belum tentu si driver jawab dengan jujur posisinya sudah sampai mana. Kalau pakai GPS kan akurasinya sudah pasti karena langsung diinfokan oleh sistem. Kalau sistem kita bahkan lebih rinci: jarak tempuh, lokasi parkir, kecepatan sopir mengemudi, cek alat berat, dan banyak lagi," katanya. \



Bagi perusahaan alat berat misalnya, dengan alat ini akan ketahuan penggunaan alat berat sesuai SOP atau tidak. Misalnya SOP alat  hanya boleh dipakai misalnya 9 jam per hari, tetapi kadang si peminjam pakainya lebih dari 10 jam, akibatnya alat tersebut jadi cepat rusak. Nah, dengan aplikasi ini bisa ketahuan alat dipakai berapa lama.


"Kemudian ada satu lagi fiturnya. Ada perusahaan-perusahaan yang pola pengiriman barangnya tetap yaitu gudang – konsumen, begitu seterusnya, rute yang dilewati sama setiap hari. Maka aplikasi ini bisa bantu si manager, menggambar rute tetap itu lalu di save, jadi kalau suatu saat mobil keluar dari jalur itu akan ketahuan. Kalau mobil itu keluar dari jalur yang di save, maka akan ada email yang masuk sebagai notifikasi bahwa mobil tersebut keluar jalur," papar Alamsyah.



Belum lagi, juga ada lagi fitur Geo Check In dan Check Out, semacam absensinya mobil atau truk. Misalnya plat nomor truk adalah B 1234, maka nanti saat dia masuk ke gudang ABC, akan ada email masuk (notifikasi), Truk dengan nomor polisi B 1234 baru saja check in di Gudang ABC pukul 10.00 WIB. Lalu nanti saat dia sudah selesai loading barang dan keluar dari gudang, akan ada lagi notifikasi email. Jadi ketahuan berapa lama waktu loading barang di gudang itu oleh mobil tersebut. Jadi perusahaan akan sangat terbantu untuk memonitor dan efisiensi tentunya. Kemudian satu lagi fiturnya adalah bisa melacak mobil itu selama satu hari penuh jalan kemana saja dan parkir dimana saja, itu bisa ketahuan. Dan bisa dilacak dalam waktu 100 hari, jadi kalau mau lihat riwayat atau track recordnya dalam 100 hari, bisa.



Terakhir, di dalam aplikasi itu juga ada fitur untuk mengetahui bahan bakarnya terpakai berapa banyak. Ini informasi yang tepat bagi perusahaan kan untuk efisiensi. Jadi misalnya kalau si driver pakai bensin 10 liter, tetapi dia klaimnya 15 liter, akan ketahuan.



Alamsyah menjelaskanm pemasaran FoxLogger lebih banyak menggunakan model Worth of Mouth dan jaringan teman lamanya. Ia menargetkan tiga tahun kedepan bisnisnya akan nanti berkembang dan bisa masuk ke negara-negara tetangga di Asia. "Sistemnya bisa dipakai negara-negara di Asia, misalnya untuk smart city atau logistiknya. Tetapi sekarang kami mau fokus di Indonesia dulu, kan Indonesia juga potensinya masih gede".



Ia melihat Indonesia yang punya 37 kota masih potensial. "kami menjual dan sekaligus membantu memasangkan. Sekarang sudah ada sekitar 80 an agen," kata Alamsyah. Pihaknya terus mengkembangkan agen di daerah, sehingga konsumen di daerah merasa dekat. "Kami tidak hanya jualan tetapi kami siapkan pelayanan purna jual melalui  agen terdekat," kata Alamsyah.