Rabu, 21 September 2016

Banyak Investor Asing Cari Partner Lokal, Siap Tanam Uang Modal, Termasuk Kalangan Private Equity Ini




Perusahaaan private equity memang tidak terkenal seperti bank atau bursa. Padahal private equity juga salah satu sumber modal dan menjadi solusi permodalan bagi para pemilik perusahaan yang bisnisnya ingin tumbuh.


Private equity adalah salah satu alternatif permodalan. Dana yang dikelola perusahaan private equity  berasal dari para investor seperti dana pensiun, orang-orang kaya, atau dana abadi perguruan tinggi. Ini semacam lembaga yang ditugaskan dan dipercaya untuk memutar duit dari investor itu. Kalau bank biasanya memberi duit pinjaman dan minta jaminan (kolateral), kalau private equity tidak. Dia invest di perusahaan semisalnya Rp 300 miliar atau Rp 100 miliar, tapi ia minta ditukar dengan saham. Nah, ada perusahaan private equity yang maunya invest sebagai pemegang saham minoritas dan nggak mau lebih dari 50%, namun juga ada yang maunya justru harus pegang kendali. Masing-masing perusahaan private equity punya gaya dan kebijakan masing-masing.

Sumberdana dari private equity itu biasanya terkumpul karena keaktifan para pendiri dalam mencari dana untuk dikelola. Jangan heran kalau di Indonesia, para pemilik private equity pasti orang yang punya network kuat dengan pemilik dana di luar negeri. Misalnya Patrick Waluyo (Northstar), Gita Wiryawan (Ancora) dan Edwin Soeryajaya (Saratoga). Mereka semua lulusan Amerika yang channel dengan lembaga keuangan Barat sudah sangat kuat.

Kenapa mereka mau memberikan dananya untuk dikelola? Ya karena ingin dananya berputar dan bertambah. Ingat bahwa di negeri Barat dan Jepang, kalau menaroh deposito di Bank bunganya pertahun hanya 2% atau bahkan kurang. Kalau diputar di negara perkembang mereka bisa mendapatlan keuntungan minimal belasan persen per tahun. Logikanya simple, idiologi uang adalah keuntungan. Dia tidak punya loyalitas ke negara atau lokasi. Tapi ia akan datang ke tempat yang bisa berkembang biak. Ini rumus uang yang jangan dibantah.

Cara investasi perusahaan private equity (PE) ke perusahaan dalam bentuk pembelian saham bisa dua macam. Pertama, membeli sebagian saham yang dimiliki pemegang lama (artinya ia membeli existing saham). Dus ada pergantian kepemilikan saham. Kedua, perusahaan yang akan diinjek modal itu menerbitkan saham baru yang kemudian dibeli oleh perusahaan PE itu. Umumnya cara kedua ini lebih banyak dipilih karena beerarti dana yang masuk tidak masuk ke kantong pribadi pemegang saham lama, namun menambah modal perusahaan sehingga perusahaan bisa berputar lebih baik.


Selain dengan cara investasi melalui saham, perusahaan PE juga bisa dengan cara membeli convertible bond yang diterbitkan perusahaan yang butuh duit. Convertible  bond itu adalah surat utang yang suatu saat bisa diubah (diconvert) menjadi saham ketika pas jatuh tempo perusahaan yang berhutang itu tidak bisa melunasi secara sempurna atas hutang-hutangnya.


Perusahaan PE biasanya hanya mau invest di perusahaan yang tumbuh cepat dan margin untungnya baik. Kenapa? Karena ia harus memberi keuntungan juga ke pemodal yang menitipkan uangnya. Makanya biasanya IRR private equity selalu minta diatas 18%. Kalau bank Anda kasih bunga 12-13%, maka PE minimal diangka 18%.

Makanya, kebanyakan orang berhubungan dengan PE bila sudah tidak bisa pinjam ke bank lagi. Ekuitas yang dimiliki sudah mentok. Kalau bahasa orang keuangan, debt to equity ratio sudah nggak memungkinkan  untuk pinjam ke bank. Ingat, tidak ada bank yang mau kasih pinjaman bila tidak ada kolateral. Ini normalnya. Ada beberapa bank yang bisa kasih pinjaman tanpa kolateral, namun sudah pasti hanya ke nasabah korporat yang sudah lama dikenal, dan biasanya bunganya juga jauh lebih tinggi.


Siapakah yang paling pas menggandeng PE:

- perusahaan yang mau ekspansi dan yakin punya bisnis bagus kedepan tapi nggak punya modal. Ini penting mengajak PE untuk kembangkan bisnis bareng
- Perusahaan yang tahu ada perusahaan yang mau dijual, perusahaan bagus, tapi nggak punya uang. Ajak PE untuk invest dan Anda yang menjadi operatornya karena Anda yang tahu bisnisnya sehari-hari
- CEO atau eksekutif senior perusahaan yang tahu bahwa perusahaan dimana ia bekerja mau dijual,. Ia merasa sayang dan tahu bahwa bisnisnya bagus dan ia bisa menyelamatkannya, makanya ajak PE untuk invest dan anda akan menjadi salah satu pmegang saham penting. Saya punya beberapa kawan yang riel seperti ini. Dulu CEO disitu tapi mau dijual oleh owner, akhirnya ia cari pemodal untuk beli perusahaan itu.


Nah perusahaan PE itu biasanya invest nggak lama. Cuma 3-7 tahun. Setelah itu ia keluar  atau exit. Cara exit bermacam-macam. Bisa menjual sahamnya melalui bursa atau go public, bisa menjual saham ke pemegang saham lain yang mayoritas. Tapi bisa juga melalui trade sale, yakni ia menjual ke berbagai investor besar yaitu group besar yang minat di bisnis itu. Misalnya PE invest di bisnis TI lalu exit, maka ia akan tawarkan ke ACER, IBM, Microsoft, dll, untuk membeli sahamnya. Istilahnya, menjual ke investor strategis, bukan ke investor keuangan. Tapi menjual ke sesama investor keuangan juga mungkin.


Nah bagaimana di Indonesia?  Di Indonesia semakin banyak perusahaan private equity yang aktif walaupun mereka tidak punya kantor khusus di Indonesia namun mereka menunjuk orang tertentu menjadi wakilnya di Indonesia. Ingat cara kerja private eqyuity lebih silent, diam-diam, nggak mau banyak ngomong. Namanya juga private.  Mereka memang selektif dalam memilih perusahaan yang akan diinvestasi, namun mereka juga harus investasi karena kalau nggak menyalurkan  duitnya untuk diinvestasikan, mereka juga akan ditanya dan ditabok oleh lembaga yang memercayakan uang untuk diputar. Kalau Anda sudah dipercaya untuk memutar uang tapi kok anda nggak dapat tempat yang ditaruh uang berarti anda bodoh. Anda nggak punya teman atau anda nggak bisa cari teman. Padahal sebegitu banyaknya perusahaan di Indonesia yang butuh funding, dengan manajemen yang terpercaya dan prospeknya bagus.


By the way, kalau perusahaan Anda butuh modal dari investor private equity yang mau invest dari Rp 200 miliar sampai Rp 1,5 triliun, saya punya kawan eksekutif yang kerjanya di perusahaan private equity luar negeri dan memang sedang cari-cari peluang investasi di Indonesia. Hubungan saya dengan dia sangat dekat sehingga sewaktu-waktu dia bisa datang ke jakarta untuk meeting bila ada peluang yang menarik.

Salam semangat, semoga bisnis anda sukses. 


Sudarmadi
darmadi2000@yahoo.com
sirdarmadi@gmail.com