Kamis, 24 Desember 2015

Cara Willie Smits Bangkitkan Pertanian Gula Aren


Bukan rahasia lagi, di Indonesia pohon aren (arenga pinnata),  selama bertahun-tahun  cenderung dipandang sebelah mata oleh warga masyakarkat. Nilai ekonomisnya sering dianggapkalah jauh dibanding pohon kelapa (coconut tree),  tebu  dan terlebih dibanding kelapa sawit (palm oil tree). Tak  heran, warga masyarakat semakin jarang yang mau dengan sengaja menanam pohon aren, apalagi  membudidayakannya dengan rapi dalam jumlah banyak. Tak heran, pohon aren yang ada,  khususnya di Jawa, kebanyakan merupakan tanaman yang tumbuh alami, di pematang- pematang sawah atau tebing-tebing pegunungan. Jumlah populasi orang yang mau mengambil nira  aren pun semakin lama semakin sedikit, alias makin habis.

Kenyataan itulah yang melecut keprihatian seorang Willie Smits. Pasalnya,  menurutnya, tanaman aren merupakan tanaman yang sangat produktif. "Ini pohon ajaib. A magic tree. Dari akar sampai daun bermanfaat bagi manusia. Orang yang  mengonsumsi gula aren punya harapan hidup lebih baik karena lebih sehat dibanding jenis gula-gula lainnya," jelas Willie Smits, ahli biologi dan kehutanan yang meraih gelar  doktor bidang tropical forestry and soil science dari Wageningen University (Belanda)  tahun 1994 itu.

Meski lahir dan tumbuh di Belanda, bagi Willie, Indonesia bukanlah negeri yang asing.  Sejak awal 1980-an, ia sudah berada di Indonesia, sebagai seorang peneliti dan pakar kehutanan,  microbiologist, dan juga conservationist, yang banyak meneilti dan memberdayakan satwa liar  di Indonesia. Di negerinya, Willie juga dikenal sebagai pakar lingkungan hidup. Tahun 1985  ia sudah hidup di hutan-hutan Kalimantan untuk melakukan penelitian. Tahun 1989 ia mulai  aktif pada gerakan penyelamatan orang utan dan juga merupakan perintis Borneo Orangutan Survival Foundation. Ia juga sempat diminta menjadi senior advisor untuk Menteri Kehutanan pada era Menteri Djamaludin Suryohadikusumo. Kecintaannya pada Indonesia bertambah karena ia juga menikah dengan wanita Indonesia, dari Tomohon, Sulawesi Utara, dan akhirnya menjadi WNI.

Perhatian Willie pada tumbuhan aren dimulai dari fakta bahwa di Tomohon – terletak di Propinsi Sulawesi  Utara,  sekitar 25 km dari Manado -- seorang pria yang  melamar wanita kekasihnya, diminta membayar dengan maskawin berupa enam pohon aren.  Awalnya ia terheran kenapa maskawin ‘hanya’ semurah itu, namun dalam perkembangannya ia tahu bahwa  ternyata pohon aren sangat produktif. Khususnya dari nira (gula) yang dihasilkannya.  Terlebih kalau pintar merawat pohon dan memanennya dengan cara-cara yang benar.

Namun sayang sekali, masyakarat pada umumnya belum menghargai pohon aren dengan baik.  Yang membuat Willie prihatin, banyak pohon ditebang tanpa penggantian bibit baru lagi  sehingga populasi makin berkurang. Hal inilah yang mendorongnya berbuat sesuatu, dengan  memberberdayakan petani aren, dengan tujuan, selain peningkatan ekonomi juga pelestatrian  lingkungan.
Secara umum ada dua alasan yang mendorong Willie getol memberbeayakan pertanian aren.

Pertama, dari sisi lingkungan, pohon aren sangat ramah lingkungan bila dibudidayakan. Berdasarkan penilitiannya, pohon aren mampu tumbuh besar di tanah-tanah tandus, lereng-lereng bukit, semak-semak dan pematang sawah. "Kalau di hutan, pohon aren justru akan tumbuh lebih besar  di hutan campuran yang banyak jenis pohon besar lain di dalamnya. Jadi ia tanaman tumpang sari.  Pohon aren akan bisa tumbuh dengan baik bersama pohon-pohon lainnya, cocok dengan  keragaman hayati," katanya. Hal ini berbeda dengan kelapa sawit yang cenderung merusak  keragaman hayati dan kesuburan tanah. Selain itu, akar pohon aren yang serabut itu bisa  menghunjam sepanjang 15 meter ke dalam tanah sehingga mencegah tanah longsor dan menahan  air.

Yang juga tak kalah penting, tentu saja, dari sisi benefit ekonomi yang dihasilkan gula aren. Memang kalau nira pohon aren hanya dibudidayakan sebagai minuman tuak, tak akan  punya dampak ekonomi signifikan. Namun kalau diolah dengan baik menjadi gula aren,  diproses dan dikemas, lalu diekspor, hasilnya akan sangat baik bagi peningkatan  pendapatan masyarakat. Di Tomohon, misalnya,  6 pohon aren sudah bisa mencukup kebutuhan keluarga  baru.

Willie memulai kegiatan pemberdayaan petani aren tahun 1998 di Tomohon.  Daerah itu memang  dikenal sebagai salah satu sentra aren di Indonesia.  "Yang pertama kali lakukan, melakukan reboisasi gunung dan lahan seluas 500 hektar," kenang Willie. Ia mulai dengan membeli tanah-tanah yang tidak  produktif dan lahan-lahan paling curam (lahan jelek) untuk dilakukan penanaman kembali. Ia ingat  waktu itu banyak orang yang terheran kenapa ia mau membeli lahan-lahan jelek itu,  sampai ada yang menyangsikan jangan-jangan ada tambang emas di bawahnya. Willie dan istrinya memilih cara membeli lahan itu karena biasanya orang akan sulit untuk diajak melakuka sesuatu bila belum ada bukti, sehingga ia membeli tanah sendiri sendiri agar bisa mulai menjalankan ide- idenya.

Di tanah-tanah curam di tebing dan lahan tandus itu kemudian ia lakukan reboisasi dengan   pola hutan campuran. "Di dalamnya kami tanamai pohon cempaka, kayu pertukangan, kayu yang menghasilkan buah-buahan dan jenis-jenis pohon yang bisa  menyuburkan tanah. Tentu saja juga kita tanami aren untuk penciptaan lapangan kerja,"  papar Willie. Untuk menggulirkan program ini, Willie mendirikan  Yayasan Masarang dimana ia menjadi ketuanya. Nama Masarang semdiri diambil dari nama sebuah pegunungan di Tomohon.  Pegunungan Masarang saat itu dalam kondisi yang sudah agak gundul dan kalau hujan sering terjadi banjir. Sementara di waktu musim kemarau biasa terjadi kekuaran air sehingga terkadang terjadi  perselisihan antar warga karena rebutan air.

Setelah melakukan reboisasi lima tahun, pada akhirnya masyarakat mulai mengerti pentingnya reboisasi  sehingga mereka juga mau menjalankan program tersebut. Terlebih setelah 5 tahun penanaman  itu, tidak pernah lagi terjadi banjir, mata air bisa mengalir sepanjang tahun, dan warga bisa  menanam sawahnya sepanjang tahun. "Ternyata dari 500 hektar yang direboisasi bisa menghasilkan efek puluhan miliar rupiah untuk masyarakat, belum termasuk dari aren," katanya.

Kemudian untuk menggalakkan budidaya aren, Yayasan Masarang aktif melakukan pelatihan  tentang budidaya gula aren yang baik. Dalam hal ini Willie juga terus aktif melakukan riset tentang tanaman aren. "Kami menemukan ada 20 masalah kunci dalam budidaya aren kenapa tidak bisa berkembang. Kami riset bertahun-tahun, kami sudah kami selesaikan satu per satu sehingga sudah siap untuk menerapkannya di tempat lain," ungkapnya. Ia menyontohkan,  dulu pembibitan aren terbilang sulit dan jarang dilakukan. Pasalnya, menurut penelitiannya,  dari metode perkecambahan alami, setelah 6 bulan dilakukan pembibitan hanya 10% dari biji yang bisa tumbuh. "Kita sudah kaji dan lakukan riset dan menemukan cara untuk bisa menghasilkan menjadi 80%-90% kecambah yang tumbuh dalam tiga minggu," ungkapnya.

Seleksi bibit unggul untuk diregerenasikan juga penting. Ia melihat seleksi pohon aren di  Sulawesi Utara dan di Sumatera Utara lebih baik dibanding di Jawa karena disana banyak  pohon aren unggulan yang besar dan usianya sudah tua. "Orang Tomohon misalnya, mereka  tidak menebang pohon aren karena mereka hanya mengambil nira dan daunnya. Sehingga secara  alamiah terjadi seleksi positif dan muncul pohon-pohon aren unggul," katanya. Hal  ini berbeda dengan di Jawa dimana populasi makin habis karena masayarakat biasa menebang pohon aren besar dan mengambil batangnya untuk bahan makanan kolang-kaling saat lebaran.

Penanganan nira saat dipanen juga menentukan produktiffitas. "Teknik penyadapan sangat menentukan jumlah hasilnya. Penyadap senior yang sudah ahli menyadap, bisa  menghasilkan nira 30% lebih banyak dari yang muda-muda. Karena itu penyadap yang sudah  ahli harus mau berbagi ilmu. Disinilah peran Yayasan Masarang untuk mengirim penyadap  terbaik guna memberikan pelatihan ke petani-petani lain," ungkapnya.

Termasuk pula dalam menangani nira setelah dipetik dari pohonnya. Sebelumnya, masing- masing petani membuat alat untuk pengolahan sendiri, namun ternyata banyak alat yang kurang bersih dan hasilnya kurang terstandar. Kualitas gula yang dihasilkan tidak sempurna karena menjadi lembab dan mudah membusuk atau asam.  "Kami membuatkan berbagai alat agar membuat nira yang dihasilkan tersandar dnegan baik,"  katanya.

Diantara langkah penting yang dilakukan Willie, sejak 2007 ia memelopori pendirian  pabrik gula aren di Tomohon tersebut yang sampai sekarang beroperasi dengan baik. Pabrik  itu merupakan pabrik gula aren pertama di Indonesia (bahkan di dunia) dan dikelola melalui PT Gunung Hijau  Masarang. Pabrik pengolahan ini membeli nira dari petani binaan Yayasan Masarang yang  jumlahnya berkisar 4500-an petani. Pengolahan nira aren disana meliputi proses pemanasan, penyaringan, pengeringan, dan pengemasan hingga akhirnya menjadi produk gula aren yang  siap diekspor.

Sebenarnya, sebelum ada pabrik gula aren PT Gunung Hijau Masarang, para petani juga sudah  melakukan pengolahan nira menjadi gula aren. Hanya saja secara kuantitas dan kualitas  skalanya masih belum memenuhi standar pasar ekspor. Waktu itu para petani memasak nira dengan kayu bakar. Persoalannya, kayu bakar untuk memanaskan nira ini menjadi masalah  tersendiri karena makin lama warga makin sulit mendapatkan kayu sehingga terkadang justru  menebang pohon aren itu sendiri untuk dijadikan kayu bakar.

Yayasan Masarang kemudian melakukan modernisasi dengan mengadakan alat tungku yang lebih  higinis. Lalu, untuk bahan bakar, Yayasan Masarang bekerjasama dengan PT Pertamina  Geothermal (PGE) di Lahendong, yakni dengan menyalurkan uap panas bumi yang diproduksinya untuk memanaskan nira di pabrik gula aren. Sistem geothermal di Lahendong mampu menyuplai listrik sebesar 80 megawatt. Selain menghasilkan listrik, sisa energi panas bumi dengan  temperatur mencapai 70 derajat celcius itu dialirkan ke semua tungku pemasakan nira di  pabrik, sebagai bagian dari program CSR. Pemanfaatan uap panas bumi untuk gula aren  tersebut merupakan yang pertama di Indonesia. Dengan cara itu, para petani nira tidak  perlu repot lagi mencari kayu bakar untuk mengolah aren.

Pabrik gula aren yang dibangun dengan nila investasi sekitar Rp 9 miliar itu menghasilkan gula cetak dan gula semut, beroperasi setiap hari. Rata-rata pasokan bahan baku nira dari  petani aren di berkisar 30.000 liter per hari. Gula semut produksinya dekspor ke sejumkah  negara di Eropa dan Asia, antara lain ke Jepang, Belanda, Jerman dan Swiss. Kapasitasnya  sekitar 800 kg-1 ton gula aren bubuk per hari.

Jelas keberadaan pabrik gula dan Yayasan Masarang tersebut memberikan benefit yang besar  kepada warga masyarakat di Kelurahan Taratara, Lahendong, Tinaras, Kayahu, dan  Kumelembuai, karena pabrik ini mampu membeli nira dengan harga yang baik. Warga menjadi lebih bersemangat untuk menanam aren ketimbang masa-masa sebelumnya.

Willie menceritakan, pohon aren di Tomohon rata-rata bisa menghasilkan 17,2 liter nira per  pohon per hari. "Kandungan gulanya dari nira yang dihasilkan berkisar 10% sampai 17%,  namun rata-rata di 12%," kata Willie. Dengan kata lain, bila seseorang punya 6 pohon aren menghasilkan, maka ia akan bisa memiliki 16 kg gula aren per hari. "Kalau harga Rp 3.000  per kg, maka itu sudah lebih dari cukup untuk hidup keluarga. Disana satu orang bisa memanen 15 pohon setiap hari, atau 30 kg gula aren per hari," ungkap Willie.

Dalam risetnya, pendapatan per petani aren per hari tak kurang dari Rp 300 ribu. "Bahkan  kami ada beberapa penyadap petani aren organik dengan pendapatan diatas Rp 1 juta per ari. Bapak bisa datang kesana untuk chek. Rumah-rumah paling bagus disana adalah petani aren yang sebelumnya berpendapatan rendah," katanya. Harganya akan semakin baik bila  nira yang dijual petani ialah nira organik yang dihasilkan dari pohon aren tanpa pupuk pestisida.

Dengan hasil seperti itu, Willie sangat yakin pendapatan masyarakat Indonesia akan sangat  baik. "Kita bisa membuktikan tanpa sawit kita bisa jauh lebih untung, Melalui reboisasi  justru mendapat nama baik dan ekonomi yang baik," kata Willie penuh semangat. Willie melakukan studi, dalam satu hutan campuran (hutan dengan berbagai jenis pohon di dalamnya), setidaknya bisa  ditumbuhi 60 pohon aren produktif per hektar. Lahan seluas itu bisa dikerjakan oleh 4  orang. "Bandingkan dengan tanaman sawit yang hanya mampu menyediakan 0,11 lapangan kerja per hektar. Angka ini akan menurun di sawit karena sebentar lagi tenaga robotik sudah akan banyak dipakai pada budidaya sawit. Sawit menuntut adanya lahan pertanian yang paling  baik, sedangkan pohon aren bisa tumbuh baik di topografi yang kritis dan curam," kata  Willie .

Nilai program reboisasi itu juga bukan semata dari aren yang dihasilkan, namun juga dari  hasil pohon-pohon lain yang ditanam karena tanaman aren bisa tumbuh bersama pohon besar lainnya. Ia  menyontohkan kayu cempaka dan pohon buah yang juga bisa menghasilkan. Dari penelitiannya,  dari 1 hektar lahan reboisasi, bisa membuat 7 orang bekerja selama 6 bulan. Artinya,  penciptaan lapangan kerja ialah 3,5 orang per hektar tiap tahun. Belum lagi bila dilihat  dari pertanian sawah dibawahnya yang kemudian hidup dengan baik akibat pasokan mata air  yang cukup dari hutan diatasnya, maka dari 500 hektar rebobisasi, nilai ekonomis yang  muncul di luar aren bisa lebih dari Rp 25 miliar per tahun. 

Karena keyakinanyna itu, Willie kini sangat antusias untuk menyebarkan pengetahuannya  tentang budidaya gula aren ini ke berbagai tempat di Indonesia, khususnya di Kalimantan  Barat dan Sumatera Utara. "Kita sekarang juga sedang membangun pabrik gula aren baru di Sintang, Kalimantan Barat, disana juga ada ribuan pohon aren," ungkapnya. Selain itu  Willie juga terlibat aktif dalam program reboisasi, termasuk di Kulon Progo, Yogyakarta,  meski hanya sebagai penasehat. "Kami sudah siap mereplikasi konsep dan temuan kami ke  tempat-tempat lain di Indonesia dengan pola kerjasama," kata Willie seraya menyebutkan dirinya sekarang ditugaskan seorang pengusaha pemilik HPH untuk melakukan reboisasi  hutan agar lebih produktif dan pro hutan lestari.

Meski ekonomi gula aren ini berjalan baik, namun bukan berarti tanpa kendala. Salah satu  masalah utamanya, pasokan listrik untuk pemanasan pabrik gula. Menurut Willie, pasokan  uap dari pembangkit listrik milik Pertamina Geothermal naik-turun karena itu pula  jumlah nira petani yang bisa diolah pun fluktuatif. Kisarannya dari 1.500 petani sampai 5.000 petani. Sebab itu pihaknya  memohon agar pasokan uap ke pabrik gula bisa dinaikkan agar semakin banyak petani yang bisa menjual niranya ke pabrik tersebut.

Pembuatan gula aren dengan pemanasan uap panas sifatnya lebih stabil. Panas wajan merata  sehingga tidak ada hasil gula yang gosong. Gula yang dihasilkan pun bersih karena tidak terkena debu pembakaran kayu bakar. Bila suplai uap panas bumi dari Pertamina bisa ditingkatkan tentu akan semakin banyak petani aren bisa menyetor hasil ke pabrik itu. Pada  gilirannya, akan semakin sedikit pula jumlah nira yang dibuat menjadi minuman keras (tuak)  --  yang kerap kali menjadi sumber masalah pemicu konflik.

Ibnu Tadji, entrepreneur bidang jasa yang mengenal baik Willie Smits sangat salut melihat  kiprah relasinya yang sangat getol memberdayakan lingkungan melalui pemberdayaan petani  aren. "Langkah beliau membuat kita-kita malu, karena banyak diantara kita yang belum bisa melakukan hal positif seperti beliau. Beliau memberdayakan masayarakat yang dampaknya bagus secara sosial, lingkungan hidup maupun ekonomi," tutur Ibnu menunjukkan.

Sementara itu, Tomy Perdana, pemerhati bidang agrobisnis yang juga Kepala Departemen  Sosial Ekonomi Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran, menilai Willie Smits  sudah berhasil mengembangkan agroindustri berbasis sosial dan ramah lingkungan yang  memberikan nilai tambah bagi pertanian gula aren. "Pilihan menjalankan agroindustri aren  sebagai perusahaan sosial merupakan langkah strategik yang dapat menjaga kesinambungan  upaya pensejahteraan petani aren dan menjaga kondisi lingkungan. Nilai tambah dan profit yang dihasilkan agroindustri aren dinvestasikan kembali untuk  memperkuat dan mereplikasi model bisnis agroindustri aren. Sehingga sangat wajar,  apabila agroindustri aren tersebut bermitra dengan 4000 orang petani kecil yang tersebar  di berbagai daerah.

Tomy menambahkan, dengan kemampuan interpersonal skills dan kepakaran lingkungannya,   Willie Smits telah berhasil menggugah partisipasi pemerintah daerah dan pusat untuk  ikut serta dalam pengembangan agroindustri aren. Selain itu juga, mampu menarik keterlibatan perusahaan energi untuk mendukung pasokan energi. "Pertanian gula aren dapat dapat dikembangkan menjadi program  nasional karena memiliki potensi pasar besar, baik untuk ekspor maupun pasar domestik.  Potensi pohon industri aren masih berpeluang besar untuk dieksplorasi tidak hanya untuk  industri makan, tetapi juga untuk kebutuhan industri energi, seperti bioethanol," kata Tomy.
Hanya saja, sambung Tomy, kemungkinan bisnis ini akan menemui kendala dari sisi bagaimana  memilih investor yang memahami bahwa agroindustri aren merupakan perusahaan sosial yang  tidak semata-mata mengejar keuntungan. Selain itu,  persoalan membangun sistem rantai pasok bahan baku aren yang keberadaannya tersebar dan  juga membangun tim manajemen perusahaan sosial yang solid juga sangat menantang. "Ini bukan hal mudah karena di  satu sisi harus profesional dan di satu sisi harus berjiwa sosial. Kegagalan membangun tim manajemen yang solid akan berdampak pada kesinambungan perusahaan sosial tersebut. Selain itu juga tidak bisa melupakan pelibatan partisipasi pemangku kepentingan dalam agroindustri aren, seperti pemerintah dan perusahaan yang memberikan CSR," pesan Tomy.

Willie sendiri sangat yakin masa depan ekonomi gula aren ini. Sampai saat ini ia kewalahan untuk melayani permintaan ekspor. “Kita tidak bisa melayani order yang masuk. Jumlah order kita 20 kali lipat dari kemampaun pasok kita.  Sebab itu itu kita terus mengajak masyarakat di tempat lain untuk menanam aren karena prospeknya sangat baik dan juga lebih ramah lingkungan,” pungkas Willie yang sangat aktif menjadi pembicara di berbagai seminar internasional tentang lingkungan ini.