Senin, 14 November 2011

Setiawan Santoso : Raja Garmen Asli Wong Semarang

Bagi yang melihat sebelah mata bisnis garmen dan tekstil di Jawa Tengah, agaknya harus menyambangi Setiawan Santoso. Pemilik PT Rodeo ini membuktikan bahwa wong asli Semarang pun bisa mengembangkan bisnis garmen berskala besar, dengan kinerja yang baik. Rodeo tiap tahun meraup omset US$ 10 juta.

Bukti keperkasaan Rodeo, di antaranya, dipercaya sejumlah perusahaan multinasional memproduksi merek-merek garmen top dunia. Lotto, Fila, Esprit, Guess dan Warner Bross, adalah nama-nama merek yang pernah ditanganinya. Bahkan, Rodeo juga sukses mengembangkan merek sendiri dengan posisi dan awareness cukup kuat di pasar nasional. Terutama, merek Point One, yang tergolong ngetop dan banyak tersedia di hampir semua toserba modern.

Bisnis garmen memang bukan mainan baru bagi Setiawan. Sejak kecil dunia tekstil menjadi bagian hidupnya. Orang tuanya adalah pedagang kain yang membuka toko di sekitar Pasar Peterongan, Semarang. Awalnya, ia hanya meneruskan bisnis toko kain kecil warisan orang tuanya itu. Namun, makin lama bisnisnya makin berkembang, hingga kemudian ia dan orang tuanya membuka toko garmen. Seiring perkembangan tokonya, ia juga mulai mengimpor garmen dari Hong Kong dan Singapura, meski dalam jumlah kecil. Hal ini terutama untuk memenuhi permintaan di tokonya. Produk impor tersebut juga dijual di Yogyakarta dan Solo.

Tahun 1978 keluar kebijakan pemerintah yang mempersulit impor. Setiawan terpaksa berpikir keras agar tak kehilangan bisnis. Ternyata, larangan ini justru mendorongnya membuat produk garmen sendiri. Ia mengangkat dua karyawan untuk membantu produksi pertamanya, di rumah kontrakan. Modalnya hanya satu mesin jahit dan mesin obras. Semua ia lakukan sendiri, baik pekerjaan pemotongan, penjahitan, pengiriman maupun jual-beli kaus. Bahan baku diperolehnya dari Semarang, Bandung dan Jakarta. Untuk memasarkan produk, ia memilih nama merek Rodeo (jenis olah raga menaklukkan sapi liar -– Red.), agar mewakili jiwa anak muda, segmen yang ia sasar.

Ternyata bisnisnya berkembang. Karyawannya bertambah, dari dua menjadi empat orang, 10 orang, dan seterusnya. Setelah menjadi industri rumahan, tahun 1984 ia memindahkan lokasi produksi di Jl Kaligawe, pada lahan seluas ... hektare. Kemudian, tahun 1989 berinisiatif membuat pabrik perajutan sendiri, memproduksi bahan baku kain untuk pembuatan kaus. Yang pasti, kini Rodeo bisa melakukan bisnisnya dari hulu ke hilir, dari perajutan, pencelupan dan finishing, hingga sablon (hand printing) dan cetak bordir.

Dari sisi pemasaran, Setiawan sangat peduli menggarap pasar ekspor. Langkah ini dimulai tahun 1987, ketika karyawannya berjumlah 800-an orang. Ekspor perdana ke Italia, dengan pesanan sebanyak 2.000 lusin. "Waktu itu kami benar-benar jungkir balik untuk memenuhi kuota pesanan, tapi sekaligus memberikan standar kualitas yang baik," ujar Setiawan, mengenang.

Karena sebagian besar basis produksinya untuk pasar ekspor, ketika krismon tahun 1998, kinerja perusahaannya tetap bagus. Malah, pendapatan perusahaan meningkat karena pembayarannya dalam dolar AS. Setiawan mengakui, kelemahan perusahaan garmen di Indonesia, belum bisa mengekspor dengan memakai merek sendiri untuk kategori mass product. Karena, membutuhkan biaya yang sangat besar untuk promosi. Selain itu, harus ada penempatan orang di daerah tujuan ekspor untuk mendapatkan perancang yang tepat serta mencari informasi tentang pangsa pasar di negara itu.

Setiawan saat ini fokus membenahi kondisi internal. Antara lain, melakukan rasionalisasi dan efisiensi serta meningkatkan produktivitas. Dengan kapasitas produk perajutan sekitar 250 ton/bulan -- 40% untuk memenuhi kebutuhan industri garmennya sendiri dan 60% dijual —- kini setiap tahun Rodeo memproduksi 3 juta lembar produk garmen dengan dibantu sekitar 2.500 karyawan. Selain di Semarang, Setiawan juga memiliki perusahaan garmen di Jakarta, PT Rodeo Kerta Kencana namanya.


Farida Nawang Nurini.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar