Senin, 14 November 2011

Samudera Prawirawidjaja, Sang Putra Mahkota Ultra Jaya

Di industri minuman, nama PT Ultra Jaya (UJ) cukup tersohor. Maklum, selain sudah puluhan tahun malang melintang di bisnis ini, UJ juga dikenal sebagai pionir minuman dalam kemasan tetrapak. Apalagi, produk-produknya terbilang populer, mulai dari teh kotak, susu cair dalam kemasan, hingga minuman rasa buah Buavita. Namun agaknya, hanya sedikit yang tahu mekarnya bisnis UJ dalam beberapa tahun terakhir tak lepas dari sentuhan Samudera Prawirawidjaja, tokoh muda yang menjabat sebagai Direktur Pemasaran di perusahaan asal Bandung itu.

Samudera, seperti halnya ayahnya, Sabana Prawirawidjaja, bersikap low profile, bahkan terkesan amat merendah. Padahal bila melihat kiprahnya, tak perlu diragukan. Pria bertubuh ramping ini sejak awal memang aktif terlibat dalam pengelolaan bisnis UJ -- tak semua putra Sabana terlibat dalam manajemen UJ. Sebagai putra tertua dari empat bersaudara, Samudera bahkan bisa disebut sebagai putra mahkota perusahaan yang telah go public di Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya itu.

Samudera mulai aktif melibatkan diri di UJ setelah kepulangannya dari kuliah di Universitas Southern California, Amerika Serikat. "Tepatnya sejak tahun 1989," tuturnya di sela-sela sebuah acara di Hotel Sangri-La Jakarta beberapa waktu lalu. Di UJ, selama ini tugas Samudera lebih banyak terkait dengan dunia pemasaran. Ia bertanggung jawab penuh terhadap kinerja penjualan perusahaan ini. Praktis, urusan promosi, distribusi dan strategi memenangi persaingan merupakan pekerjaan sehari-hari pria yang lebih sering berpakaian kasual ini. "Saya lihat orangnya memang brilian, pinter, meskipun masih muda. Saya banyak tahu dari anak buahnya," komentar Yahya B. Sunaryo, Direktur Direxion Consulting, yang juga berbasis di Bandung.

Sebetulnya kiprah Samudera tak hanya di bidang pemasaran. "Saya juga bertanggung jawab untuk pengembangan TI," tutur pria yang suka membaur dengan karyawannya ini. Tak salah, Samudera termasuk pengusaha yang amat perhatian pada urusan TI. Buktinya, UJ tahun lalu telah menyelesaikan implementasi sistem ERP dari Oracle. Tentunya, ini sebuah prestasi mengingat belum banyak perusahaan manufaktur consumer goods di Indonesia yang telah mengimplementasi sistem secanggih itu. Bahkan tak hanya dari sisi TI, tetapi juga teknologi produksi. Akhir tahun lalu UJ baru saja menginstalasi pabrik baru yang semua bekerja dengan sistem robotik. "Di Indonesia baru Ultra Jaya yang menerapkan teknologi robotik dan di Asia hanya satu-dua perusahaan," Samudera menambahkan.

Ke depan, nampaknya Samudera masih akan terus bergulat dengan dunia pemasaran. "Masih banyak yang bisa dilakukan dan perlu dikembangkan," tutur pria yang belum genap berusia 40 tahun ini. Salah satu yang menarik perhatiannya ialah menggenjot pemasaran susu cair putih dalam kemasan. Kini, pihaknya tengah serius menggenjot pemasaran produk ini dengan melakukan kampanye secara terintegrasi di semua media, baik above the line maupun below the line.

"Indonesia adalah pasar yang bersifat anomali. Hampir di semua negara, termasuk negara maju, konsumsi susu cair jauh lebih besar dari susu bubuk,� tuturnya. “Tapi di Indonesia kebalikannya. Dari konsumsi susu 345 juta liter per tahun, 82,1% merupakan susu bubuk, sedangkan susu cair baru 17%." Samudera juga mengungkapkan susu cair putih produksi UJ telah diekspor ke AS, Australia, Jepang dan Singapura. Tentu, waktu jugalah yang bakal membuktikan sejauhmana Samudera sukses menggenjot penjualan susu cair itu.

Selama ini, sekitar 60% penjualan tahunan UJ disumbang oleh produk-produk minuman berbasis susu, dan sisanya dari minuman rasa buah, teh, dan lain-lain. Waktu pula yang akan membuktikan, seberapa besar keteguhan Samudera menghadapi rayuan dari perusahaan multinasional macam Coca-Cola Company dan Unilever yang biasanya berminat meminang perusahaan semenarik UJ.


Sudarmadi/Asep Rohimat.