Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2011

King of Arowana Supplier From East Jakarta

Gambar
Sudarmadi
“Success is the fruit of hard work". That is what Tris Tanoto believed. Tris is an Indonesian entrepreneur that get success in breeding and export of red arowana fish.
His fortune in arowana business through PT Munjul Prima Utama (MPU) come from a coincidence. The story began in 1985 when Tris was 36 years old. "Up to the age of 35 years I am still poor," he told to Sudarmadi, an Indonesian business journalist.
Someday, his friend that own arowana trading business came to him. The friend force him to buy arowana because urgently need money. He offer 400 arowana fish to Tris. He helped his friend then buy the arowana fish.  "In that time, I did not know what I should do with the arowana. Therefore, my intention was just to help friend, "said Tris while recognizing in the time he had absolutely no experience in breeding arowana.
At that time the arowana fish are still in small body size (length 12 cm), in Jakarta market valued around IDR 250 thousan…

Metta Murdaya: Kembangkan Bisnis Skin Care Herbal High End di AS

Melanjutkan bisnis yang sudah dibesarkan orang tua, boleh jadi, lebih menjanjikan keberhasilan. Toh, Metta Murdaya, putri sulung pasangan konglomerat Murdaya Pho dan Siti Hartati Murdaya, enggan mengambil “jalur aman” ini. Meski orang tuanya dikenal punya puluhan perusahaan berskala besar, Metta lebih tertarik merintis usaha sendiri, yakni bisnis kosmetik herbal untuk perawatan kulit (herbal skin care). Ia memang tidak sendirian, melainkan dengan beberapa rekannya dari Asia, yakni Tami Chuang, Yoshiko Roth, dan Jill Sung. Di perusahaan yang bernama Loisaida Labs LLC. ini, Metta didapuk sebagai CEO-nya, sekaligus bertanggung jawab di bidang keuangan, desain dan pengembangan produk.

Perempuan kelahiran 10 Oktober 1974 ini mulai menggulirkan produksi dan pemasaran produk herbal di tahun 2004. “Saya tertarik berbisnis karena banyak sekali pengalaman yang saya peroleh selama bekerja di berbagai perusahaan asing di Amerika Serikat dan Asia,” tutur mantan karyawan Home Depot dan Deloitte Con…

Lima Sekawan Sukses Membangun BSI Hingga Punya Puluhan Kampus

Berawal dari usaha kursus kecil-kecilan, kini Bina Sarana Informatika berkembang pesat menjadi akademi pendidikan ternama dan punya 36 kampus. Bagaimana kewirausahaan di baliknya?


“Mulailah berwirausaha dari skala kecil, dan rintislah usaha sedari usia Anda masih muda.” Nasihat ini tampaknya dihayati dan dijalankan betul oleh lima sekawan -- Naba Aji Notoseputro, Herman P., Efriadi, Surachman dan Sigit – dalam merintis bisnis pendidikan hingga mencapai sukses seperti sekarang. Bina Sarana Informatika (BSI) menjadi bukti ketekunan Naba dkk. membangun bisnis sendiri dari skala kecil.

Semua itu berawal pada 1988, ketika lima sekawan tersebut tengah duduk di semester akhir Institut Pertanian Bogor. Di saat mereka belum menyelesaikan kuliah, mereka coba-coba mendirikan lembaga kursus komputer kecil-kecilan di Depok, Jawa Barat. Modal untuk menggulirkan usaha hanya lima unit komputer PC IBM XT 8088 dan kenekatan. Mereka setiap hari bolak-balik Depok-Bogor. “Pagi kuliah dulu di Bogor, lalu…

Johnnie Sugiarto, Ikon Bisnis Wisata Dari Negeri Sumatera

Berkat tangan dingin Johnnie Sugiarto, El John menjadi pemain besar di bisnis wisata nasional, dengan mengelola aset hotel, resor, lapangan golf, resto hingga lounge bandara. Apa kiat mantan tukang cuap-cuap ini?

Sulit mencari nama pengusaha kelas nasional yang sukses dari ranah Kerinci. Karena itu, Johnnie Sugiarto, yang memang asal Jambi, merupakan pengecualian. Kejeliannya membidik segmen-segmen bisnis yang belum dilirik orang membuat skala bisnisnya terus membesar.

Salah satu bisnis uniknya adalah executive lounge. Tak mengherankan, Johnnie kini layak disebut sebagai “Raja Bisnis Executive Lounge”. Tanpa banyak cakap, sederet executive lounge miliknya sudah hadir di 13 bandara besar di Tanah Air, antara lain Soekarno-Hatta (Jakarta), Supadio (Pontianak), Syamsuddin Noor (Banjarmasin) dan Hang Nadim (Batam).

Executive lounge hanyalah salah satu ladang bisnis Johnnie. Maklum, kerajaan bisnismya yang tergabung dalam bendera Grup El John Indonesia mencakup 7 divisi bisnis: hotel &am…

Cara Jitu Memasarkan Produk Alat Kesehatan

Gambar
Pasar alat kesehatan cukup menjanjikan untuk digarap. Namun, butuh pendekatan dan kiat khusus dalam memasarkan produk berharga mahal ini. Ini berbeda dari cara pemasaran produk yang massal seperti fast moving consumer goods (FMCG). Maklum, karakteristik produk dan target pasarnya berbeda. Dari sisi target pasar misalnya, kebanyakan produk alat kesehatan menyasar segmen institusi atau pasar business to business (B2B). Kemudian, biasanya tingkat pendidikan pelanggan yang disasar juga lebih tinggi – pengelola rumah sakit dan laboratorium ataukah para dokternya. Karena itu, butuh pendekatan pemasaran yang khusus.


Selama ini, produsen alat kesehatan di Indonesia umumnya tak bekerja sendirian dalam menggarap pasar. Mereka menggandeng para mitra penjualan, baik distributor, agen maupun dealer. Pasarnya begitu kompleks. Jika produsen harus mengurusi manufakturing (termasuk riset dan pengembangan/R&D) dan pemasaran sendirian, dikhawatirkan malah kelabakan dan perusahaan tak kunjung membes…

Samudera Prawirawidjaja, Sang Putra Mahkota Ultra Jaya

Di industri minuman, nama PT Ultra Jaya (UJ) cukup tersohor. Maklum, selain sudah puluhan tahun malang melintang di bisnis ini, UJ juga dikenal sebagai pionir minuman dalam kemasan tetrapak. Apalagi, produk-produknya terbilang populer, mulai dari teh kotak, susu cair dalam kemasan, hingga minuman rasa buah Buavita. Namun agaknya, hanya sedikit yang tahu mekarnya bisnis UJ dalam beberapa tahun terakhir tak lepas dari sentuhan Samudera Prawirawidjaja, tokoh muda yang menjabat sebagai Direktur Pemasaran di perusahaan asal Bandung itu.

Samudera, seperti halnya ayahnya, Sabana Prawirawidjaja, bersikap low profile, bahkan terkesan amat merendah. Padahal bila melihat kiprahnya, tak perlu diragukan. Pria bertubuh ramping ini sejak awal memang aktif terlibat dalam pengelolaan bisnis UJ -- tak semua putra Sabana terlibat dalam manajemen UJ. Sebagai putra tertua dari empat bersaudara, Samudera bahkan bisa disebut sebagai putra mahkota perusahaan yang telah go public di Bursa Efek Jakarta dan Bur…

Setiawan Santoso : Raja Garmen Asli Wong Semarang

Bagi yang melihat sebelah mata bisnis garmen dan tekstil di Jawa Tengah, agaknya harus menyambangi Setiawan Santoso. Pemilik PT Rodeo ini membuktikan bahwa wong asli Semarang pun bisa mengembangkan bisnis garmen berskala besar, dengan kinerja yang baik. Rodeo tiap tahun meraup omset US$ 10 juta.
Bukti keperkasaan Rodeo, di antaranya, dipercaya sejumlah perusahaan multinasional memproduksi merek-merek garmen top dunia. Lotto, Fila, Esprit, Guess dan Warner Bross, adalah nama-nama merek yang pernah ditanganinya. Bahkan, Rodeo juga sukses mengembangkan merek sendiri dengan posisi dan awareness cukup kuat di pasar nasional. Terutama, merek Point One, yang tergolong ngetop dan banyak tersedia di hampir semua toserba modern.
Bisnis garmen memang bukan mainan baru bagi Setiawan. Sejak kecil dunia tekstil menjadi bagian hidupnya. Orang tuanya adalah pedagang kain yang membuka toko di sekitar Pasar Peterongan, Semarang. Awalnya, ia hanya meneruskan bisnis toko kain kecil warisan orang tuany…

Menuai Sukses Roda Impian Wim Cycle

Walaupun disergap sejumlah pemain asing, Wim Cycle bertahan sebagai pemimpin pasar sepeda, dan mampu meraih omset di atas Rp 150 miliar per tahun.

"Wym Cycle ... heeeboooh!" demikian penggalan akhir iklan sepeda terdengar jenaka. Meski iklan itu jarang muncul di teve, karena suara dan visualnya khas dan menarik, banyak orang yang mengingatnya.

Wim Cycle ternyata tidak hanya heboh sebatas di iklan, tapi juga kinerja pemasarannya. Produk sepeda asal Surabaya ini hingga sekarang bertahan sebagai pemimpin pasar di Tanah Air. Tahun 2002, ia mampu meraih penjualan 350 ribu unit. "Wim Cycle memang masih market leader," ujar Johny Rusdiyanto, staf pengajar Universitas Surabaya.

Prestasi Wim Cycle, tentu, menjadi catatan menarik. Perusahaan ini berdiri akhir 1970-an, sudah 25 tahun lebih. Sederet perusahaan sejenis yang lahir pada masa itu, sebagian besar telah mati, termakan bengisnya persaingan industri sepeda. Maklum, karakter persaingan di bisnis ini cukup rumit. Jorjoran…

Kiprah Jagoan Bisnis Alat Presentasi

Di bisnis peralatan presentasi, nama Soedjarwo Budiono sedang berkibar. Ia sukses mengantarkan perusahaannya PT Indovisual Presentama -- agen Proxima, NEC, ASK, dan Panasonic -- merajai bisnis peranti presentasi. Soedjarwo mendirikan perusahaan ini awal 1999, bersama lima sobatnya, yakni Kodrat Budiadji, Hamzah Junaid, Ong Madian, Hartono Lim, dan Muhammad Nazaruddin Anwar. "Sekarang kami market leader di pasar peranti presentasi," ujarnya.


Soedjarwo dkk. mendirikan bisnis keagenan bidang ini lantaran sebelumnya tak ada perusahaan yang khusus menggarapnya. PT Datascrip, misalnya, memang menyediakan perlengkapan presentasi, tapi hanya bagian kecil dari bisnis besarnya di bidang penyediaan perlengkapan kantor. Demikian pula, beberapa pemain lain. "Kami berani karena sangat fokus dan terspesialisasi," katanya.


Enam sekawan ini dengan bulat menunjuk Soedjarwo sebagai nakhoda Indovisual. Lewat urunan, mereka berhasil mengumpulkan total dana Rp 600 juta sebagai modal me…