Selasa, 18 Oktober 2011

Wilmar International: Aliansi dan Investasi yang Cerdik

Wilmar International Ltd. memang bukan Astra Agro, Sinarmas atau Bakrie Plantation yang cukup populer bagi pemain agrobisnis di Indonesia. Toh sesungguhnya Wilmar tak kalah hebat. Malahan bisa disebut lebih hebat, khususnya bila dilihat dari kiprahnya yang tak sekadar jagoan lokal. Wilmar sudah menjadi pemain global, mempunyai tak kurang dari 160 pabrik pemrosesan minyak sawit dan minyak nabati di berbagai negara termasuk Indonesia, Malaysia, Cina dan India.

Perusahaan ini sudah go public di Singapore Stock Exchange dan disebut-sebut sebagai salah satu perusahaan publik berkapitalisasi pasar terbesar di bursa negeri jiran itu. Sebagai gambaran, hingga kuartal II/2008, pendapatannya mencapai US$ 7,8 milar dengan laba bersih US$ 332 juta. Bisnis utamanya adalah perdagangan, pemrosesan minyak sawit dan minyak nabati, selain bisnis perkebunan tentunya. Bisnis perdagangan dan pemrosesannya punya pendapatan yang jauh lebih besar ketimbang bisnis perkebunannya yang hanya berkontribusi 5% dari total pendapatan grup ini.

Di Cina, sebut contoh, grup ini dikabarkan tak kurang punya 20 pabrik penyulingan. Belum termasuk yang di Indonesia dan Malaysia. Perusahaan ini punya land bank perkebunan 500 ribu ha di beberapa negara – sebagian besar di Indonesia dan Malaysia. Luas kebunnya yang sudah tertanami per kuartal II/2008 mencapai 215 ribu ha, dan kebun yang sudah panen 137,7 ribu ha. Mereka memasarkan produknya ke 50 negara di dunia dengan fokus di lima area: Indonesia, Malaysia, Cina, India dan Eropa.

Tak salah, Wilmar adalah contoh tepat perusahaan yang sukses melakukan lompatan kuantum. Maklum, baru didirikan tahun 1991, kini skala bisnisnya sudah berkelas global. Tentu saja ini berkat strategi investasi dan aliansi yang tepat para pengelolanya.

Wilmar sejatinya adalah sebuah grup perusahaan dengan dua wajah: Indonesia dan Malaysia. Maklum pendirinya memang dua orang, yang satu dari Indonesia yakni Martua Sitorus (48 tahun) asal Medan, dan satunya lagi dari Malaysia, Kuok Khoon Hong alias William Kuok (58 tahun). Begitu pula dengan nama Wilmar, yang singkatan dari Wil(liam) dan Mar(tua). Dua entrepreneur hebat inilah yang sekarang sedang menjadi pembicaraan hangat di kalangan bisnis minyak nabati olahan dunia. Apalagi Wilmar baru saja menjalin aliansi dengan Archer Daniels Midland Company, perusahaan minyak nabati olahan terbesar dunia yang masuk Fortune 100.

Martua Sitorus adalah sosok menarik karena di saat usianya baru 48 tahun sudah mampu mengendalikan bisnis beromset miliaran dolar. Menurut sumber yang sangat dekat mengenalnya, Martua yang bernama Tionghoa, Thio Seng Hap adalah putra pemilik toko UD Sadar di Pematang Siantar – toko besar yang menjual berbagai kebutuhan sehari-hari. Di Pematang Siantar orang lebih mengenal Martua sebagai Ahok, anak kedua dari lima bersaudara. Keluarga Martua termasuk salah satu orang terkaya di kota itu.

Ketika berusaha mulai menjalankan bisnis sendiri, Ahok dimodali 9 unit truk oleh orang tuanya untuk berbisnis transportasi di Medan. Di akhir 1980-an, Martua mencoba membuka pabrik palm kernel (produk sampingan kelapa sawit) kecil-kecilan dengan produksi sekitar 40 ton/hari di Belawan. Martua juga belajar dagang minyak goreng yang dibeli dari Grup Salim dan Grup Sinarmas – dari sinilah Martua punya jejaring dengan dua grup besar itu.

Ketika mulai membuka pabrik palm kernel itu pulalah Martua kenal dengan William Kuok, keponakan Robert Kuok, raja minyak sawit dan raja gula di Malaysia (Kuok Brothers) yang sangat terkenal di dunia. William adalah Direktur Pengelola Kuok Group, sehingga memang sangat berpengalaman dan dikenal secara internasional. Karena berselisih paham dengan Robert, dia keluar dan merintis usaha sendiri yang kemudian bertemu dengan Martua.

Martua dan William rupanya berjodoh. Mereka kemudian bergandengan tangan di tahun 1991, melahirkan Karya Praja Nelayan (Grup KPN) yang berbasis di Medan. Beberapa perusahaan yang mereka dirikan saat itu di antaranya PT Bukit Kapur Reksa di Dumai; PT Multi Nabati Asahan (Tanjung Balai Asahan); dan PT Sinar Alam Permai (Palembang) yang membuat palm kernel. Tahun 1992, mereka membangun pabrik penyulingan PT Bukit Kapur Reksa di Dumai.

Kehebatan Martua, menurut sumber SWA yang tak mau disebut namanya, merupakan anak muda yang low profile, pekerja keras dan punya lobi yang bagus di sejumlah perusahaan perkebunan (PTP). Di KPN, meski menjadi dirut, Martua biasa terjun langsung dalam segala hal. “Semua dia tangani, tapi tetap ada tim manajemennya, menguasai secara detail seperti bisnis orang-orang Cina pada umumnya,” katanya. Faktor utama mengapa Wilmar cepat membesar adalah karena Martua menguasai local sourcing; sedangkan William menguasai pemasaran dan finansial termasuk dengan jaringan perbankan di luar negeri. Maklum, William sudah punya nama saat di Kuok Group. “Itulah alasan mengapa Wilmar bisa terbang sehebat sekarang, karena dikelola dua orang hebat,” kata sumber ini.

Maruli Gultom, mantan Presdir PT Astra Agro Lestari, mengakui, Wilmar merupakan salah satu perusahaan agrobisnis terbesar di Asia, dengan pemasaran mencakup Asia, Eropa dan Afrika. Dia menilai Martua adalah sosok yang hebat sehingga bisa membesarkan Wilmar. Maruli sempat bertemu Martua ketika mendapat undangan makan dari Menteri Perusahaan Perladangan dan Komoditas Malaysia, Datuk Peter Chin Fah Kui. Saat itu yang ada hanya Maruli, Peter Chin dan Martua Sitorus. Dari obrolan yang berlangsung, Maruli menyimpulkan Martua adalah orang yang diperhitungkan di negeri jiran. “Dia masih muda dan energik,” kata Maruli.

Sementara itu, Akmaluddin Hasibuan, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia, juga mengamati bisnis Wilmar memang berkembang sangat pesat. Menurutnya, Wilmar memulai bisnis dari hilirnya dulu, bukan di perkebunannya (hulu). “Sekarang sudah masuk biodiesel, pupuk NPK, refinasi, dan sebagainya,” kata Akmaluddin.

Akmaluddin mengaku sudah kenal lama dengan Martua yang lulusan Fakultas Ekonomi HKBP Nommensen Medan, tempatnya mengajar. “Beliau baru masuk sebagai mahasiswa, saya sudah mengajar,” katanya. Kemudian setamat kuliah, Martua memulai bisnis kecil-kecilan di PTPN VI, di bidang pengangkutan minyak sawit. “Beliau memang betul-betul self-made man, membangun dirinya sendiri dan tahu apa yang diperbuat. Waktu mahasiswa, dia belajar dengan baik, dan ketika berbisnis juga berbisnis dengan baik.”

Bungaran Saragih, mantan Menteri Pertanian RI, melihat salah satu kunci sukses Wilmar karena merekrut orang-orang yang kapabel sehingga bisa menangani perusahaan yang sangat cepat bergerak, terintegrasi vertikal dan horisontal dengan baik. Jaringan internasionalnya – khususnya sumber finansial – sangat kuat. “Jika tidak kuat sumber finansialnya, tidak mungkin bisa melakukan perdagangan dan akuisisi perusahaan,” ujar Bungaran. Di bisnis perkebunan sawit, Wilmar tidak membangun sendiri, tetapi membeli. “Dia mau cepat. Kalau membangun sendiri akan lama. Dia beli kemudian diperbaiki. Karena sudah punya pasar, soal uang tidak ada kesulitan,” ungkap Bungaran yang juga mengenal Martua.

Dalam pandangan Bungaran, Wilmar termasuk perusahaan ideal karena tidak hanya bergerak di Indonesia, melainkan pemain global dan disegani di dunia. Mereka perusahaan trading yang kuat, dipercaya pelanggan dan mau mengembangkan infrastruktur. “Martua orang pertama yang membuat pelabuhan kelapa sawit. Dia sudah berpikir ketika orang lain belum,” tuturnya.

Pernyataan Bungaran tampaknya tak meleset. Max Ramajaya, GM Pengembangan Bisnis PT Wilmar Indonesia, mengatakan, perusahaannya tidak sekadar bergerak dari atas ke bawah (hulu ke hilir) tetapi ke kanan dan ke kiri. Artinya, bisnis-bisnis lain juga dikembangkan, seperti pupuk NPK Sentana sekitar tahun 2004, pabrik biodiesel sejak tahun 2005, dan saat ini sedang bergerak ke bisnis chemical oil. Wilmar, menurut Max, juga didukung infrastruktur yang cukup kuat, baik untuk transportasi laut maupun darat. Pihaknya memiliki beberapa kapal tanker berkapasitas 10-20 ribu ton, dan segera membeli kapal berkapasitas di atas 30 ribu ton.

Soal strategi investasi, diakui Max, Wilmar agak sedikit berbeda dari perusahaan kelapa sawit lain, karena memiliki strategi investasi jangka panjang. “Kami tidak berpikir investasi sekarang harus balik modal tiga tahun lagi. Kami berpikir benar-benar bahwa investasi kami strategis,” ujar Max. Sebagai contoh, Wilmar menginvestasikan jutaan dolar untuk pengembangan infrastruktur kawasan industri Dumai. Menurut Max, tidak banyak perusahaan yang mau melakukannya lantaran mahal dan return-nya lama. Namun, bagi Wilmar kawasan industri Dumai bakal menjadi kawasan terintegrasi minyak kelapa sawit yang lengkap.

Ditanya kenapa Wilmar listing di Singapura, Max mengatakan, bursa Singapura lebih likuid dan stabil. Singapura selalu menjadi tempat yang strategis. Kendati demikian, kegiatan operasional di Indonesia tetap dilakukan di Medan. “Singapura hanya sebagai headquarter untuk konsolidasi, tetapi semua keputusan diambil di masing-masing unit,” katanya. Ke depan, Wilmar akan konsisten mengembangkan perkebunan selama arealnya tersedia dan masih dalam koridor hukum. “Per tahun kami berencana membangun kebun kelapa sawit 30-40 ribu ha.”

Yang menarik, cepatnya pertumbuhan bisnis Wilmar diiringi pula kinerja keuangan yang terus kinclong. Tentu saja hal itu menjadi berita gembira bagi investor publik yang memegang sahamnya. Per Desember 2007, angka return on average asset Wilmar 13,3% dan semester I/2008 meningkat menjadi 16,6%. Lalu, dilihat dari return on average capital employed, tahun 2007 sebesar 11,5%, sementara semester I/2008 menjadi 14,9%. Tak hanya itu, dari parameter angka NAV per saham, Desember 2007 sebesar 122,9% dan semester I/2008 mencapai 132,1%.

Jelas, Martua dan William menunjukkan bahwa wakil dari negara serumpun yang selama beberapa tahun terakhir dirundung aneka sengketa ini, ternyata bisa menciptakan sinergi bisnis sehingga menjadi kekuatan global yang disegani.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar