Selasa, 18 Oktober 2011

Kolaborasi Toyota-Daihatsu Episode 2

Setelah sukses menetaskan dan memasarkan Avanza-Xenia, kini Toyota-Daihatsu kembali berkolaborasi meluncurkan Rush dan Terios. Duit sebanyak US$ 70 juta diguyurkan untuk peningkatan kapasitas pabrik. Sanggupkah mereka melebarkan pasar SUV di Tanah Air?


Beberapa minggu terakhir dunia otomotif negeri ini kembali dihangatkan ulah bareng dua pemain penting, PT Toyota Astra Motor (TAM) dan PT Astra Daihatsu Motor (ADM). Setelah sebelumnya – tepatnya pada 2003 – mereka berkolaborasi membuahkan Toyota Avanza dan Daihatsu Xenia, kini mereka kembali meluncurkan mobil kembar, yang diberi nama Toyota Rush dan Daihatsu Terios.

Boleh jadi, mereka berdua ingin mengulang sukses manis yang dicapai Avanza-Xenia. Lihat saja, di tengah kondisi bisnis otomotif nasional yang terpukul kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM, Avanza-Xenia masih bisa berkibar dengan penjualan per bulan di atas 2 ribu unit. Baik Avanza maupun Xenia merupakan mobil penumpang dengan penjualan mengesankan – selain Kijang Innova tentunya – yang hingga kini telah terjual tak kurang dari 200 ribu unit. Keruan saja peluncuran Rush dan Terios kali ini pun disambut respons para kompetitor. Beberapa kompetitor bahkan langsung gencar beriklan agar mindshare mereka tak tergilas oleh kehadiran dua mobil kembar anyar ini.

Di Indonesia, Rush dan Terios diproduksi di pabrik yang sama, yakni di pabrik milik ADM. Kerja sama ini bisa terjadi karena secara global Toyota memang sudah memiliki 51% saham Daihatsu, sehingga kebijakan produksi di antara kedua merek internasional asal Jepang itu sangat mudah dikoordinasi untuk mencapai tingkat skala ekonomi. Daihatsu Terios sendiri sebenarnya telah diperkenalkan sebelumnya dalam ajang Tokyo Motor Show 2005.

Berbeda dari Avanza-Xenia yang dikategorikan sebagai mobil low multipurpose vehicle (MPV), Terios dan Rush diposisikan sebagai kendaraan medium sport utility vehicle (SUV). “Kami melihat di segmen SUV medium pasarnya cukup terbuka karena belum ada pemain lain yang kuat di sana,” kata Johanes Loman, Direktur Pemasaran ADM, sewaktu bersama rombongan wartawan dari Indonesia melakukan kunjungan ke pabrik Daihatsu di Oita, Jepang, beberapa minggu lalu. “Di Indonesia kebanyakan bermain di SUV premium seperti Honda CRV, Nissan Terrano, Opel Blazer,” lanjutnya.

Bila dilihat dari kualifikasi produknya, Rush dan Terios menggunakan teknologi yang “sudah jadi”, bukan dalam tahap uji coba lagi. Maklum, sebenarnya produk ini telah dipasarkan di Jepang sejak awal 2006, dan sejauh ini sama sekali tak ada komplain soal teknologi. “Di Jepang, untuk produk sejenis dinamai Daihatsu Be-Go, sedangkan Toyota tetap memakai nama yang sama, Rush,” kata Sachio Yamazaki, Eksekutif Daihatsu Motor Co. Ltd. Ia mengungkapkan, di tingkat global sebenarnya Toyota-Daihatsu juga pernah berkolaborasi beberapa kali, misalnya dalam proyek bareng peluncuran Toyota Passo-Daihatsu Boon (2004); serta Toyota bB dan Daihatsu Coo (2005/2006).

Yang menarik, ketika Daihatsu Be-Go dibawa ke Indonesia dengan dilakukan beberapa penyesuaian, khususnya soal kapasitas penumpang yang bisa diangkut. Di Jepang, Be-Go hanya memuat empat penumpang, sementara di Indonesia Terios diposisikan memuat 7 penumpang. Tak heran, untuk produk yang dipasarkan di Indonesia ukurannya 14 cm lebih panjang dari yang beredar di Jepang.

Strategi menambah kapasitas tempat duduk nampaknya belajar dari kebiasaan konsumen Indonesia yang umumnya menyukai menggunakan mobil beramai-ramai. Tak heran, mobil-mobil yang sukses di Indonesia memang yang mengambil positioning sebagai kendaraan keluarga seperti Toyota Kijang, Suzuki Carry, Daihatsu Zebra, Avanza, dan Xenia. Nampaknya pasar gemuk ini tak hendak dilewatkan begitu saja.

Tak heran, meski Rush dan Terios bermain di segmen SUV yang biasanya pasarnya relatif kecil dibanding MPV, baik ADM maupun TAM cukup percaya diri memasang target. “Kami harapkan per bulan setidaknya bisa terjual 1.000 unit,” ujar Joko Trisanyoto, Direktur Pemasaran TAM. Target yang sama juga dicanangkan pihak Daihatsu. Bukan kebetulan harga Rush dan Terios dipatok lebih murah ketimbang mobil-mobil SUV yang sudah beredar di Indonesia.

Jelasnya, Terios ditawarkan (harga on the road) dengan beberapa kelas, yakni: Rp 122,5 juta (versi standar atau berkode TS); Rp 151 juta (versi TX transmisi manual); dan Rp 161 juta (versi TX yang bertransmisi otomatis). Adapun harga Rush (on the road), untuk yang berjenis transmisi otomatis (1.5S A/T) dipatok Rp 179 juta (Jakarta); tipe 1.5 S M/T (transmisi manual) Rp 165 juta; dan 1.5 G M/T seharga Rp155 juta. Mobil berpenggerak dua roda (4x2) ini tersedia dalam berbagai pilihan warna plus aksesori menarik.

Rush dan Terios bisa ditawarkan dengan harga lebih murah, antara lain disebabkan kandungan lokalnya telah mencapai 72%. Kendati begitu, spesifikasinya tak kalah ciamik dibandingkan dengan mobil-mobil SUV yang lebih premium. Untuk Rush, mesin yang dipakai 3SZ-VE berkapasitas 1,5 liter (1.495 cc), empat silinder segaris, 16 katup (empat katup per silinder), double overhead camshaft (DOHC), variable valve timing with intelligent (VVT-i), yang menghasilkan tenaga maksimum 107 PK pada 6.000 rpm (putaran mesin per menit), dan torsi maksimum 142 Nm pada 4.400 rpm. Mobil ini juga dilengkapi fitur-fitur keselamatan berkendara. Struktur rangka Rush, sebut saja, dirancang memakai teknologi GOA body yang meminimalkan risiko cedera penumpang dan pengguna jalan. Fitur keselamatan standar seperti ABS, EBD, Dual SRS Airbags dan side door impact beams juga sudah dipakai.

Sementara itu, Terios menggunakan mesin 3SZ-VE 1.5 DOHC VVT-i, yang dilengkapi catalitic converter. Jelas, keberadaan fitur ini menegaskan bahwa Terios memenuhi standar emisi gas buang Euro 2. Mobil ini juga punya bumper depan yang kokoh, fender-nya pun tampak gembung sehingga mengesankan jantan. Ruang interiornya dilengkapi AC double blower, double DIN CD radiotape baik pada tipe TX manual maupun matik. Untuk tipe TX, dilengkapi dengan lampu depan tipe proyektor. Ruang interiornya ini memiliki 2 tone colour, kombinasi warna gading dan cokelat, sehingga kesannya mewah. Pada tempat duduk baris kedua dilengkapi fitur separate sliding seat dan split double folding guna kemudahan keluar-masuk tempat duduk pada baris ketiga.

Dari sisi kualifikasi produk, Rush dan Terios telah melewati proses riset dan quality control yang panjang. Toyota ataupun Daihatsu sendiri sudah menerapkan teknologi robotik dalam proses manufakturnya untuk meminimalisasi terjadinya kesalahan bila dikerjakan tangan-tangan manusia. Wartawan SWA sendiri bersempatan melihat bagaimana proses manufakturing mobil-mobil Toyota dan Daihatsu di Jepang yang sudah sedemikian canggih.

Baik pabrik Toyota di Toyota City (Nagoya City) maupun pabrik Daihatsu di Oita City, keduanya dilengkapi ratusan robot – selain tenaga manusia tentunya. President Daihatsu Motor Kyushu, Akihiro Higashisako, membanggakan pabriknya sebagai pabrik yang sangat modern dari segi teknologi. “Selain itu sangat ramah lingkungan. Pabrik ini sudah sesuai dengan konsep Gelombang CCC: Clean, Compact, Compartable,” ujar Akihiro, yang sayangnya tak memperkenankan pabriknya difoto para pengunjung.

Bagaimana produksinya di Indonesia? Proses manufakturing Rush dan Terios di Indonesia dilakukan ADM di dua pabrik, yakni di Sunter dan Cikarang. Pabrik Sunter untuk tahap finishing. Tak main-main memang, guna meluncurkan Terios dan Rush ini ADM menginvestasikan tambahan dana yang cukup besar. “Kami tingkatkan kapasitas produksi menjadi 150 ribu unit per tahun dari sebelumnya 114 ribu unit per tahun. Dan kami melakukan investasi baru sebesar US$ 70 juta,” papar Sudirman M.R., Wapresdir ADM. Sebagai implikasi mulai dipasarkannya Terios, produksi Daihatsu Taruna yang daur hidupnya mulai menurun dihentikan karena perannya digantikan Terios.

Terkait dengan masa depan Terios-Rush, pertanyaan utama yang sering mengemuka ialah bisakah hasil kolaborasi kedua ini sesukses Avanza-Xenia? Johanes mencoba bersikap realistis bahwa kemungkinan penjualannya tak akan semassal Xenia-Avanza. Alasannya, Terios dan Rush bermain di kategori SUV dan harganya sedikit lebih tinggi.

Boleh jadi, jawabannya memang tergantung bagaimana Toyota dan Daihatsu menciptakan demand di kalangan yang dituju. Sukses pemasaran Honda Jazz mungkin bisa jadi pelajaran. Ketika Honda Jazz akan dikeluarkan hampir tak ada pemain otomotif yang memprediksi penjualannya bakal semasif sekarang, sebab pasar sedan mini hatchback ini diperkirakan hanya terbatas anak muda. Namun harus diakui, pemasarnya cukup cerdik dalam mengemas komunikasi pemasarannya. Konsisten dengan positioning mobil anak muda atau orang yang ingin bergaya muda, ditambah endorser yang pas (duo Ratu), kini Honda Jazz tampil melesat di luar perkiraan.

Bisa saja Rush dan Terios lebih sukses mengingat mereka menyasar pasar ceruk (niche market) yang lebih gemuk (apalagi dengan 7 penumpang). Yang kemudian menentukan adalah kreativitas komunikasi Daihatsu-Toyota, serta kejeliannya menembak segmen gaya hidup. Sejauh ini Rush dipasarkan dengan slogan citra (tag line): Unleash Yourself (bebaskan dirimu); sedangkan Terios mengambil tema Stylish & Adventure. Kalau pemilihan tema ini bisa dipadukan dengan program-program komunikasi yang intensif dan tepat, tentu berpotensi mengantarkan perkawinan kedua Toyota-Daihatsu di Indonesia kali ini pun happy ending.