Selasa, 18 Oktober 2011

Johnny Sardjanto, Corporate Trainer yang Sukses Tanpa Gembar-gembor

Sebagai trainer, nama Mohamad Johnny Sardjanto memang tak setenar Ary Ginandjar, Mario Teguh, Andrie Wongso, James Gwee, Tung Desem Waringin, ataupun Reza Syarif. Namun, soal kelarisan dan “jam manggung”, ia tak kalah dari nama-nama yang lebih populer itu.

Di mata banyak direktur SDM di perusahaan BUMN dan perusahaan multinasional, sosok Johnny memang tak asing lagi. Lewat PT Pinastika Sasura, jasa Johnny dicari perusahaan-perusahaan besar yang ingin memompa motivasi dan kinerja karyawannya. Lembaga pelatihan yang didirikan Johnny pada 1991 itu populer dengan paket pelatihan yang disebut Peningkatan Karya Prestatif (PKP).

Hingga kini, Johnny mengklaim, lebih dari 24 ribu orang pernah ikut pelatihannya. Sederet kliennya dari kalangan swasta, misalnya Riau Pulp & Paper, Asian Agri, PT Bukit Makmur Mandiri Utama (pertambangan batu bara), PT Aplikanusa Lintasarta (TI dan telko), Banpu Group (pertambangan), Freeport Indonesia (pertambangan), Koba Tin, Multi Bintang Indonesia, Pama Persada Nusantara (Grup Astra), Grup Bakrie, dan sederet nama lain. Sementara klien dari BUMN, sebut contoh Aneka Tambang, Indosat, Jasa Marga, Telkom, Kimia Farma, Jasa Marga, Semen Gresik, Pupuk Kaltim, PTPN, dan Perusahaan Gas Negara.

Masing-masing perusahaan ini bisa mengirimkan ratusan sampai ribuan karyawan (dalam beberapa angkatan) untuk mengikuti pelatihan yang disuguhkan Johnny. Sebagai contoh, Banpu Group. Raksasa pertambangan asal Thailand yang di Indonesia punya lima perusahaan tambang besar ini mengirimkan lebih dari 2.000 karyawannya.

Keberhasilan Johnny ini dibangun lewat perjalanan hidup yang cukup berliku. Kakek Johnny salah satu orang terkaya di Yogyakarta-Jawa Tengah dan dikenal sebagai Raja Berlian. Namun, ekonomi keluarganya kemudian jatuh ke titik terendah. Bahkan, Johnny sempat menjadi sopir angkot. Ia beruntung, mendapatkan beasiswa belajar hingga kemudian bisa berkarier di beberapa BUMN (PT Rekayasa Industri, Pupuk Kujang, Pusri, dan Pupuk Iskandar Muda), Departemen Perindustrian, dan Sekretariat Negara. Ia pun pernah mendapatkan berbagai penghargaan atas pretasinya. Ia mengaku membantu berdirinya PT Pupuk Iskandar Muda. Johnny memang punya keahlian di bidang produktivitas kerja, sehingga jasanya amat dibutuhkan pemerintah yang waktu itu tengah gencar membangun banyak industri.

Tahun 1988, lulusan Teknik Kimia Universitas Diponegoro ini melepaskan statusnya sebagai pegawai negeri sipil karena merasa gajinya tidak cukup untuk membiayai pengobatan anaknya yang sakit. Johnny memilih bergabung dengan dunia swasta, dengan menjadi pengajar di Prasetiya Mulya (tiga tahun). Ia juga sempat bekerja sama dengan Tanri Abeng, yang memberinya modal untuk mendirikan lembaga pelatihan. Ia menemukan momentumnya pada 1991: mengembangkan lembaga pelatihan sendiri (Pinastika) yang berkembang hingga sekarang.

Johnny memosisikan pelatihannya, PKP, sebagai pengembangan soft skill. “Kami fokus di attitude training. Yang kami sentuh adalah jiwa manusia, bukan otaknya,” tuturnya bersemangat. Metodenya adalah berusaha merontokkan keyakinan-keyakinan lama peserta, dinolkan dan kemudian diganti dengan keyakinan baru yang kondusif bagi peningkatan kinerja karyawan.

Bila kita perhatikan, kunci sukses Johnny tampaknya terletak pada strateginya yang fokus. Dari sisi kepesertaan, misalnya, Johnny bukan tipikal pengelola lembaga pelatihan yang mengejar jumlah peserta besar (massal). “Kelas saya maksimal 75 orang dan minimal 35 orang karena saya harus mengenal dengan baik tiap peserta,” ungkapnya. Ia juga memfokuskan lembaganya itu sebagai penyedia jasa in-house training. Jadi, setiap event pelatihan yang digelar kepesertaannya pasti berasal dari satu lembaga/perusahaan. “Kalau ada peserta dari perusahaan lain biasanya cenderung akan ada defence mechanism, perasaan canggung, dan sebagainya.”

Menurut pria kelahiran Solo 1952 ini, cara tersebut juga dilakukan karena pelatihannya bersifat tailor-made, sesuai dengan kebutuhan perusahaan klien. “Model dan materi training seperti apa tergantung pada hasil wawancara saya dengan manajemen perusahaan itu, mereka hendak membentuk karyawannya ke arah mana,” katanya menjelaskan. Contohnya, meski sama-sama perusahaan pertambangan, jika kultur dan problemnya berbeda, materi dan metode pelatihannya akan berbeda. Selepas pelatihan, Johnny akan membuat laporan peta SDM dari peserta dan hal-hal yang harus dilakukan perusahaan klien bila ingin meningkatkan kinerja mereka.

Budikwanto Kuesar, Direktur Pengelola Grup Bukit Makmur yang bergerak di bisnis kontraktor pertambangan dan punya 7 ribu karyawan, mengakui perusahaannya biasa menggunakan jasa Johnny untuk mendongkrak kinerja karyawannya. Langkah ini memang inisiatif Budi yang pernah duduk sebagai Direktur Operasional Pama Persada dan pernah bekerja sama dengan Johnny. “Dari pengalaman kami, training-nya efektif dan menancapnya ke hati karyawan lebih lama. Apalagi, setelah training selalu diadakan follow-up dengan alumni agar hasilnya benar-benar efektif,” ucap Budi mengungkap pengalamannya.

Selama ini, Johnny mengaku hampir tak pernah berpromosi, kecuali mengandalkan getok tular (word of mouth) dari peserta lama. “Saya belum pernah pasang iklan, Mas. Dengan begini saja kami kewalahan memenuhi undangan training, karena harus kami sendiri yang melakukannya,” ujar bapak tiga anak yang sekarang lebih suka berinvestasi di bidang properti ini.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar