Senin, 01 Agustus 2011

Stardardisasi Wartawan, Ujian Lagi dan Indosat Mobile

Oleh Sudarmadi

Hari Sabtu lalu merupakan salah satu hari paling penting dalam sejarah karir saya sebagai seorang jurnalis. Bukan karena saya ada promosi jabatan atau naik gaji. Bukan. Namun karena saya diutus kantor SWA untuk mengikuti ujian Program Standardisasi Profesi Wartawan yang diselenggarakan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dalam hal ini PWI Jaya yang membawahkan wilayah Jakarta. Ini program sangat penting? Tentu saja, karena melalui program ini seorang jurnalis akan dinilai sudah layakkah ia menjadi seorang jurnalis sesuai standar yang dibuat secara nasional (Dewan Pers Indonesia). Bagi saya mengikuti ini juga cukup mendebarkan hingga membuat masuk angin karena ada perasaan nervous.

Ya, membuat nervous. Muncul perasaan dag dig dug yang luar biasa. Betapa tidak? Ini adalah program ujian pertama yang dilakukan PWI. Jadi kami-kami yang kemarin ikut itu merupakan 'korban' yang pertama dan harus siap untuk menerima hasil ujian itu. Pak Kamsul, Ketua PWI Jaya, saat itu menjelaskan bahwa ujian standardisasi itu yang pertama dijalankan PWI di seluruh Indonesia. Kita diuji dengan berbagai tool yang sudah dibuat Dewan Pers, jumlahnya ada sekitar 9 modul yang diujikan.

Hanya saja program ini juga sangat membanggakan bagi saya karena bisa bertemu kawan-kawan jurnalis senior dari media-media besar dan ternama di Jakarta yang juga ikut ujian pada level saya. Ada Mas Prapto, Redpel Warta Kota (Kompas Group), Mas Abraham (Redpel Bisnis Indonesia), Mas Ramlan (Jurnalis Senior di Radio Elshinta), dll. Termasuk yang ikut di level saya adalah Mbak Hartalena Sitompul. Beliau itu wartawati legendaris yang sudah pensiun dari RRI dan sekarang mendirikan media sendiri. Dulu waktu saya masih duduk di SMA di Bantul sering banget mendengarkan suara Mbak Hartalena melalui channel RRI Nasional, eee kok kemarin bisa bertemu orangnya dan ujian standardisasi bersama saya, tentu merasa senang dan sebuah kehormatan bagi saya bisa bertemua beliau-beliau itu.

Hasil dari ujian standardisasi ini hanya dua kesimpulan: KOMPETEN atau BELUM KOMPETEN. Bisa dibayangkan andai saja saya tak lulus dan dinyatakan tidak kompeten, betapa malunya saya sudah 10 tahun lebih jadi jurnalis kok dinyatakan nggak kompeten. Asal tahu saja, di Indonesia sudah ada beberapa orang yang sudah mendapatkan sertifikat standardisasi ini. Tidak banyak sih. Mereka ini adalah tokoh-tokoh penting di dunia pers Indonesia yang ikut merumuskan program standardisasi ini. Beliau-beliau itu mendapatkan sertifikasi bukan karena ikut ujian, namun karena kontribusi dan track recordnya. Misalnya para mantan pemred dan pendiri media-media besar di Indonesia. Pak Jacob Oetama, pendiri Kompas Group, misalnya, adalah orang yang sertifikat standardisasi wartawannya punya nomor urut 1 (pertama). Kemudian diikuti berbagai tokoh pers lain seperti Pak Sabam Siagian (Jakarta Post ) dll.

Nah, kita-kita ini mencoba mendapatkan pengakuan standardisasi melalui pintu ujian. Dengan cara di-test dulu.Program ini penyelenggaranya adalah Persatuan Wartawan Indonesia -- dalam hal ini PWI Jaya. Jadi PWI Jaya mengirim undangan ke sejumlah media besar di Jakarta, termasuk majalah SWA kantor saya, untuk mengutus dua orang waki guna ikut standardisasi. Program yang pertama dilakukan PWI ini digratiskan bagi semua peserta. Jadi saya maupun SWA tak perlu bayar ke PWI sebaga biaya ujian. "Kalau kedepan belum tentu gratis," kata seorang penguji saat itu. Saya bisa mengerti kalau kemarin itu acaranya gratis, PWI pasti butuh sebuah pilot project. Namun untuk gratis terus-menerus rasanya tak mungkin karena untuk membayar fasilitas dan penguji yang rata-rata berkelas mantan-mantan Pemred media besar itu, tak mungkin PWI nombok terus. Kecuali kalau tiba-tiba ada dana sponsor dari pemerintah.

Parameter-parameter yang diujikan bermacam-macam, dari mulai perencanaan redaksi, merancang tulisan investigasi, mengelola para reporter, hingga kemampuan memilih headline berita. Diantara yang paling mendebarkan ialah saat ujian kemampuan networking. Tiba-tiba penguji menyuruh peserta untuk menuliskan 5 narasumber yang menjadi networknya dan dianggap narasumber paling penting. Yang mengagetkan lagi, yang kita tuliskan itu benar-benar disuruh untuk dihubungi melalui handphone kita. Parameter ini untuk mengetes kemampuan networking. Kalau kita telpon ke no HP salah satu responden top dari kantor kemudian diangkat, itu wajar saja, karena yang dilihat brand kantor media kita. Nama besar perusahaan. Namun kalau kita kontak dari nomor HP pribadi kita dan diangkat oleh beliau-beliau, maka itu baru oke. Artinya kita memang punya network yang baik.

Nah, tahap ujian ini paling lucu dan menggaduhkan. Ada beberapa teman yang sempat panik karena responden top yang sudah ditulis di kertas dan diserahkan ke pnguji ternyata tidak kunjung bisa dihubungi. Tapi ada juga yang hebat, seorang teman dari Elshinta menelpon langsung ke HP Menteri Perhubungan dan diangkat serta langsung bisa bikin janji wawancara. Bagaimana saya? Karena saya bergerak di bidang jurnalisme bisnis maka responden-responden top yang saya buat juga bergerak di dunia bisnis, bukan pejabat publik. Relasi yang saya hubungi adalah beberapa chairman di kelompok bisnis tertentu atau Ketua Asosiasi Bisnis. Hanya saja kebanyakan dari mereka memang sedang berada di luar negeri saat saya hubungi. Makanya ada seloroh teman-teman, bagaimana kalau saat ujian itu dfan kita sedang bicara dengan responden dan tiba-tiba pulsa kita habis? Tentu nggak lucu alias tengsin banget.

Toh demikian, untuk urusan yang satu ini saya harus berterima kasih ke kartu Indosat Mobile yang sudah saya pakai sejak 1,5 bulan terakhir. Dengan kartu baru ini saya nggak perlu deg-degan lagi untuk berlama-lama menelpon ke narasumber karena saya sudah bayar bulanan Rp 50 ribu dan setelah itu bebas menelpon kemana saja. Pokoknya irit banget deh. Saya teringat, setelah menelpon responden yang saya tulis di kertas sebagai bagian dari ujian itu, saya lalu lihat pulsa di layar HP, ternyata sama sekali tak berkurang. Padahal awalnya saya dag dig duh juga. Untung banget sudah pegang kartu ini.

Karena itu saya sangat merekomendasikan bagi teman-teman yang biasa menelpon banyak orang di siang hari, maka paket yang ditawarkan Indosat Mobile cocok banget. Sudah saya banding-bandingkan, ini paling irit diantara paket-paket yang ditawarkan di pasar. Berbeda dengan operator yang menawarkan paket hemat untuk menelpon hanya ke nomor telpon dari operator yang sama, maka Indosat Mobile adalah paket hemat lintas operator. Ini kelebihan dia. Makanya buat para sales manager atau sales supervisor atau siapa saja yang banyak telpon lintas operator di siang hari, dan menghendaki efisiensi biaya pulsa, maka Indosat Mobile ini cocok banget. Harus dicatat, kita tentu tak mungkin saat menghubungi relasi itu memilih-milih atau membatasi hanya menelpon ke relasi yang nomor HP-nya dari operator yang sama dengan kita, Nggak mungkin dan betapa tidak produktifnya kita bila melakukan itu. Indosat Mobile memberi jawaban akan kegundahan itu.

Nah, kembali ke ujian standardisasi wartawan itu, saya bersyukur akhirnya bisa lulus alias dinyatakan kompeten. Saya merasa plong. Saat itu, dari peserta yang ikut kabarnya ada tiga orang yang dinyatakan tak lulus alias belum kompeten. Kasihan juga sih ke mereka, sudah pusing mikir dua hari penuh tapi gagal alias dinyatakan belum kompeten. Hanya saja ketegasan semacam ini memang perlu untuk menjaga lembaga wartawan agar berwibawa dan diisi orang-orang yang benar kompeten. Semoga teman-teman jurnalis lain juga segera menyusul mengikuti program sertifikasi ini dan tentunya saya harus berterima kasih bos saya di SWA yang sudah menyuruh saya ikut program ini karena saya dan Sigit (report SWA) memang yang pertama ditugaskan untuk mengikuti program yang awalnya menakutkan buat saya ini.

Salam sukses dan sejahtera buat kita semua.