Selasa, 21 Juni 2011

Bintang Baru di Bisnis Sawit

Tidak ada kesuksesan instan dalam berbisnis. Semua mesti melalui proses belajar dan acapkali harus mau melewati kegagalan dulu. Itulah salah satu pelajaran berharga yang dipetik Tjipto Widodo dalam petualangannya membesarkan grup perusahaan perkebunan sawit, BW Plantation Tbk. (BWP).

Tak disangsikan, banyak pebisnis angkat topi terhadap Tjipto yang meski baru berusia 40 tahun, sukses mengendalikan perkebunan sawit seluas 96 ribu hektare -- 46 ribu ha di antaranya sudah tertanam dan 15 ribu ha telah menghasilkan. Saat ini, nilai kapitalisasi perusahaan perkebunan yang sudah go public ini mencapai US$ 380 juta. Pendapatan usaha 2009, Rp 584,1 miliar, naik dari tahun-tahun sebelumnya (tahun 2008 sebesar Rp 513,6 miliar dan Rp 340,5 miliar tahun sebelumnya).

Sayangnya, sedikit sekali pelaku bisnis yang mengetahui bahwa Tjipto membangun perusahaan ini melalui perjuangan yang tidak mudah. Berbagai masalah pernah membelitnya, mulai dari problem rumit di bidang produksi dan penanaman hingga sulitnya meraih kepercayaan dari bank untuk meraih dana permodalan. “Saya dulu inginnya instan, maunya punya bisnis yang langsung kuat dan besar. Praktiknya, segala sesuatu harus melewati tahap perjalanan tertentu, mesti step by step,” Tjipto yang kini memimpin 7 ribu karyawan mengawali cerita.

Potret BWP merupakan cerita sebuah bisnis yang makin maju di tangan generasi kedua. Sejarahnya tak bisa dilepaskan dari sosok Budiono Widodo, ayah Tjipto yang juga pengusaha hak penguasaan hutan (HPH) pemilik Grup Wanaasri. Ayahandanya punya ide untuk masuk ke bisnis sawit karena melihat potensi bisnis perkebunan sawit yang luar biasa di Indonesia. Lahan terbuka begitu luas, cuaca sangat mendukung, tanah subur, serta pemerintah yang mendukung penuh investasi pengembangan di daerah. Apalagi, permintaan vegetable oil di dunia terus meningkat. “Berdasarkan visi beliau, kami diminta mendirikan perusahaan kelapa sawit tahun 1996,” ujar Tjipto yang kini Preskom BWP. Tentu, ketika itu peminat bisnis perkebunan sawit belum sehiruk-pikuk sekarang.

Tahun 1997 perusahaan ini mulai melakukan pembibitan dan penanaman perdana di area seluas 722 ha melalui bendera PT Bumilanggeng Perdanatrada di Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah. Tahun berikutnya, melakukan penanaman seluas 1.323 ha di Kabupatan Katingan, Kal-Teng. Namun, tiga tahun pertama perusahaan ini berdiri, Tjipto yang merupakan bungsu dari empat anak Budiono belum terlibat penuh mengurusi perusahaan sawit ini.

Waktu itu Tjipto masih ditugaskan sebagai komisaris di PT Wanaasri Fajarindo Perkasa -- perusahaan yang pada tahun-tahun berikutnya menjadi holding membawahkan tiga perkebunan: Bumilanggeng, PT Bumihutani Lestari dan PT Sawit Sukses Sejahtera. Tjipto masih fokus mengurusi perusahaan tambang batu granit (PT Pacific Granitama) sebagai direktur utama. “Saat awal saya belum terlibat daily. Baru tahun 1999 diminta masuk penuh memimpin untuk membuat perusahaan menjadi sehat dan besar,” ujar alumni California State University of Los Angeles ini.

Tak dinyana, awal-awal perusahaan perkebunan sawit ini berdiri merupakan masa yang demikian sulit. Setelah tiga tahun investasi dan melakukan penanaman, hasilnya jauh di bawah standar. Mulai dari manajemen hingga kebun kondisinya memprihatinkan. Kebunnya kotor dan banyak tanaman yang sakit. Pengecekan unsur hara menunjukkan hasil yang tidak memuaskan. Banyak alat berat yang tak jalan. “Ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Banyak sekali permasalahan yang dihadapi. Keadaan perusahaan kurang maksimal dibanding investasi yang telah dikeluarkan,” kelahiran Jakarta tahun 1970 ini mendeskripsikan.

Memang, saat itu perkebunan masih dalam tahap penanaman alias belum produksi, tetapi biaya yang dikeluarkan sudah terlalu tinggi. Dana modal pribadi yang digelontorkan telah mencapai Rp 30 miliar. Intinya, banyak sekali aspek yang mesti dibenahi, belum lagi saat itu juga sedang terjadi krisis moneter. Itulah alasan Tjipto diminta bergabung membenahi perkebunan ini. Ia dinilai ayahnya berhasil dalam mengembangkan bisnis pertambangan batu granit. “Saya dipandang bisa membangun tim yang kuat untuk menjalankan perusahaan,” Tjipto menceritakan kiprah awalnya menangani BWP tahun 1999. Di sisi lain, waktu diminta memimpin, ia juga mendapat dukungan dari manajemen puncak yang ada di bawahnya untuk belajar, menguasai, dan membentuk tim manajemen terbaik buat menjadikan perusahaan ini lebih sehat dan dinamis.

Begitu masuk dan mengendalikan perusahaan, Tjipto langsung mendalami permasalahan yang ada. Setelah melihat kondisi riilnya, ia memutuskan tidak menanam terlebih dulu. Selain modal mulai habis, juga perlu memperbaiki kondisi kebun yang sudah ada dulu. Setidaknya proses pembenahan perusahaan ini dan perkebunannya menelan waktu tiga tahun. Mulai dari membentuk tim manajemen, memperbaiki sistem, merekrut tenaga-tenaga andal, hingga membuat cetak biru kultur perusahaan. Kebun yang tadinya kotor dibersihkan, dirapikan. Karyawan diberi pelatihan dan motivasi. “Kami lakukan pembenahan di semua aspek selama tiga tahun. Itu masa rehabilitasi, baik di level manajemen di kantor pusat maupun di lapangan,” kata Tjipto bersemangat.

Kemudian, setelah tiga tahun membereskan persoalan internal, Tjipto mulai berpikiran mencari dana modal. Maklum, dana segar sangat dibutuhkan untuk membayar utang ke para pemasok, mendirikan pabrik kelapa sawit, dan mempersiapkan penanaman sawit selanjutnya. Sayang, upaya mencari pinjaman bank kelewat berat karena saat itu sedang terjadi krisis moneter sehingga kalangan bank menjalankan strategi uang ketat. “Semua bank menutup pintu. Hampir setiap bank saya datangi,” kata pehobi otomotif dan golf ini mengenang. Satu demi satu, Tjipto mengetuk pintu bank untuk mendapatkan dana.

Abdul Halim Ashari, profesional yang kini menjadi Presdir BWP, menjadi saksi kegigihan Tjipto mendatangi bank-bank itu, baik bank kecil maupun multinasional. Halim melihat bosnya punya kelebihan luar biasa saat sedang terpojok. “Kalau terpojok, the best-nya keluar,” demikian kesan Halim. Ia tahu persis saat itu Tjipto door-to-door, mengetuk pintu satu per satu, menemui pengelola bank. Ini berbeda dari yang dialami Halim di tempat kerja dia sebelumnya (perusahaan Malaysia) yang bila perlu modal tidak perlu susah-susah “ngemis” ke bank. “Saat itulah Pak Tjipto bilang ke saya, 'Halim, suatu hari nanti kita tidak akan di sini lagi (kantor bank), mereka yang akan datang ke kantor kita.' Tekad itu yang dijalankan. Dalam krisis kelihatan kekuatan Pak Tjipto,” Halim menuturkan.

Dan memang betul, perjuangan gigih itu tak sia-sia. Setelah melihat kebun dan potensinya, Bank BNI bersedia menggelontorkan dana pada 2002. Dana tersebut kemudian digunakan untuk membayar utang ke pemasok, perbaikan, dan persiapan penanaman berikutnya. Termasuk, untuk mendanai pembangunan pabrik PT Bumi Perdana Prima International yang berkapasitas 45 ton per jam.

Di saat awal pembenahan, Tjipto melihat timnya terlalu berat untuk mengelola tiga perkebunan sekaligus. Sebab itu, pada tahap awal pihaknya memilih fokus mengembangkan Bumilanggeng dan Bumihutani dulu. Setelah mulai stabil, baru dilanjutkan mengembangkan Sawit Sukses Sejahtera. Gayung bersambut, setelah itu berekspansi lagi berbekal dua izin lokasi perkebunan, yakni PT Wana Catur Jaya Utama di Kabupaten Kapuas dan PT Adhyaksa Dharmasatya di Kotawaringin Timur, keduanya di Kal-Teng.

Tjipto mulai mendapatkan keyakinan bahwa kondisi perusahaannya semakin membaik pada 2005. Kapasitas kebun yang telah tertanam terus berkembang hingga mencapai 15 ribu ha. Karena itu, pihaknya mulai berpikir untuk investasi kembali. “Kami percaya apa yang kami peroleh akan tercapai, bahkan lebih dari apa yang kami harapkan, karena fondasi manajemen sudah kuat, antardivisi juga sudah kuat, SDM sudah lengkap, kondisi kebun sudah rapi dan bersih,” ujarnya.

Tak berhenti di situ. Melihat skala bisnis yang semakin besar, pada 2007 dilakukan reorganisasi. Bumi Perdana Prima International diubah namanya menjadi BW Plantation, yang kemudian dijadikan induk bagi lima anak perusahaan: Bumilanggeng, Bumihutani, Sawit Sukses Sejahtera, Wana Catur dan Adhyaksa – catatan: BW singkatan Budiono Widodo, nama ayah Tjipto. Tahun 2008, BWP meneruskan langkahnya dengan mengakuisisi izin lokasi PT Satria Manunggal Sejahtera dan PT Agrolestari Kencana Makmur.

Sebenarnya, pada 2001 kebun BWP ada yang mulai berbuah. Namun karena jumlahnya masih sedikit, dengan kapasitas 6-8 ton/ha dari 722 ha, hasilnya dijual ke kebun perusahaan lain. Saat itu, perusahaan juga belum punya pabrik sendiri. Pabrik sendiri mulai berproduksi pada 2004 (kapasitas 45 ton/jam). Tahun 2007, membangun pabrik kedua, dengan kapasitas 60 ton/jam. Kini total kapasitas produksi crude palm oil (CPO) BWP mencapai 105/jam. “Kami sedang membangun lagi dengan kapasitas 45 ton/jam,” kata Tjipto bersemangat.

Tak pelak lagi, setelah melakukan banyak pembenahan, ia melihat tim manajemen yang dibentuknya telah siap berlari. Cost effectiveness dan margin profit tinggi juga telah tercapai sehingga dipercaya publik. Tak mengherankan, pada 27 Oktober 2009 BWP berani melakukan penawaran saham perdana (initial public offering/IPO). Pada saat IPO kapitalisasi pasarnya US$ 240 juta. Pendapatan usaha 2009 mencapai Rp 584 miliar, meningkat dibanding tahun sebelumnya, Rp 513 miliar. Padahal kalau dilihat pada 2005, omset perusahaan baru sebesar Rp 94 miliar.

Kini tak dirasa BWP telah berkembang hingga memliki total lahan seluas 96 ribu ha. Dari lahan seluas itu, 46 ribu ha telah ditanami -- 15 ribu ha telah berproduksi. “Jadi, masih 30 ribu ha lagi yang belum menghasilkan tetapi sudah tertanam. Inilah kunci dari keberhasilan BWP sebagai perusahan publik,” kata Tjipto. Sewaktu sahamnya ditawarkan ke Indonesia, Singapura, Malaysia, London dan Amsterdam, kalangan investor melihat potensi pertumbuhan yang luar biasa. “Mereka percaya, manajemennya solid, dan kami punya target menanam 10-14 ribu ha/tahun atau ada penambahan penanaman 30% per tahun,” ujarnya. Saat ini nilai kapitalisasi pasar BWP telah mencapai US$ 380 juta. “Dalam tiga tahun ke depan kami targetkan mencapai US$ 1 miliar.”

Target itu tentu tak mengawang-awang. Hal itu terkait strategi BWP yang terus akan melakukan penanaman baru 14 ribu ha/tahun. Yang pasti, bagusnya kinerja BWP meningkatkan minat investor untuk bekerja sama. September 2010, Tjipto diundang mempresentasikan perusahaanya di Amerika Serikat (Washington DC, New York, Denver, San Francisco dan Los Angeles). Sebelum itu, beberapa investor dari Eropa dan Asia juga sudah menyatakan berminat menginvestasikan dananya di perusahaan ini.

Meski telah berkembang sedemikian rupa, BWP tetap akan fokus pada bisnis upstream, yakni menghasilkan produk CPO, tidak akan masuk ke bisnis hilir lebih jauh. “Perolehan profit margin yang didapatkan dari CPO itu lebih tinggi dibanding harus bergerak di bisnis downstream,” kata Tjipto. Ia mengingatkan bisnis hilir minyak goreng pun pernah mengalami kerugian ketika harga CPO naik, karena harga minyak goreng tidak seliar harga CPO di pasaran dunia. Permintaan dunia akan CPO masih sangat besar karena tidak hanya untuk minyak goreng, tetapi bisa pula untuk biofuel, kosmetik, dan belasan produk turunan lain.

Sejauh ini, produk CPO BWP masih untuk pembeli domestik dan para pembeli itu yang kemudian melakukan ekspor. Ia menilai tanpa menyentuh pasar ekspor pun pasar dalam negeri masih sangat menarik. “Tidak perlu mencari pasar untuk menjual, setiap seminggu sekali perusahaan mengadakan tender tertutup. Selalu ada 10-15 perusahaan yang akan menawarkan harga beli. Pembeli dengan harga tertinggi itu yang akan mendapatkan,” papar Tjipto. Menurutnya, dengan cara ini margin profitnya jauh lebih bagus dibanding ekspor. “Belum lagi harus double handling kapal, sementara kapal kadang tidak bisa merapat lebih dekat dan pembayaran ekspor tidak langsung karena melalui letter of credit,” kata Tjipto seraya menyebutkan, pembeli CPO-nya antara lain Wilmar, Best Agro, serta Darmex Oil & Fats.

Menurut Marciano Herman, CEO Danareksa Sekuritas, dilihat dari strategi ekspansi dan pertumbuhannya, dapat dinilai bahwa manajemen BWP memiliki know-how dan komitmen tinggi dalam bisnis perkebunan kelapa sawit. Selain itu, pengelolaan perkebunannya pun efisien dengan praktik agronomi yang inovatif dan berwawasan ramah lingkungan. Dari segi pasar modal, walaupun relatif baru mencatatkan sahamnya di bursa, BWP dapat mencuri perhatian investor karena kinerjanya, baik produktivitas maupun keuangan, yang relatif lebih baik daripada pesaing.

Herman membandingkan harga saham ketika IPO dengan saat ini. “Indikatornya, harga saham perusahaan yang telah meningkat lebih dari 50% sejak IPO tahun 2009. Artinya, manajemen perusahaan mampu mencapai apa yang mereka janjikan dan apa yang diharapkan investor,” katanya. Dibandingkan dengan sejumlah pemain utama di industrinya, ia melihat BWP memiliki produktivitas tertinggi dan pengelolaan perkebunannya pun yang terbaik. Kombinasi dari ukuran dan produktivitas ini menjadikan BWP termasuk perusahaan kelapa sawit dengan peluang pertumbuhan terbaik. Ini dibuktikan dengan margin profitnya yang selalu di atas rata-rata industri. Semester I/2010, pertumbuhan net profit margin BWP mencapai 31,5% di atas rata-rata industri yang 28%.

Tjipto melihat masih banyak tantangan ke depan yang bisa dikerjakan, antara lain terus menekan biaya serendah mungkin untuk mendapatkan margin profit maksimal. “Kami akan lakukan hal terbaik step by step. Kami selalu memberikan target yang lebih tinggi sehingga jauh lebih bagus dari standar dari pasar,” ujarnya. Untuk ekspansi area perkebunan, BWP masih akan fokus di wilayah Kalimantan. Selain karena pemda setempat umumnya kooperatif terhadap investor, jumlah pencurian sawit di Kalimantan pun dinilai lebih kecil dibanding Sumatera.

Tjipto mengungkapkan, kunci suksesnya dalam mengelola BWP antara lain pemilihan pemimpin yang tepat. Inilah faktor penting yang mendukung keberhasilannya. Tjipto menggandeng Abdul Halim Ashari, profesional asli Malaysia, yang kemudian menjadi Presdir BWP. Halim sebelumnya bekerja sebagai Presdir PT Boustead Management -- anak usaha Boustead Holding Bhd. Awalnya, Halim tidak langsung bergabung, tetapi sebagai konsultan terlebih dulu. “Saya kenal dia sejak 1995, teman main golf. Ternyata, teman saya ini orang yang sangat berpengalaman. Dia dulu kerja di Boustead, perusahaan sawit terbesar keenam di dunia,” Tjipto menjelaskan. Menurutnya, bila ingin sukses mengelola perusahaan, perlu ada kerja sama yang cantik antara komisaris utama dan presdir. Saling mengerti dan menghargai, serta berkomunikasi menjadi kunci pencapaian visi perusahaan.

Halim sendiri melihat Tjipto sebagai sosok pengusaha muda yang bisa dipercaya. Halim diangkat sebagai direktur operasional mendampingi Tjipto tahun 2002 yang saat itu menjabat sebagai Presdir Wanaasri Fajarindo Perkasa. “Waktu pertama kali ketemu, saya lihat orangnya terbuka dan karakternya kuat,” kata Halim.

Menurut Halim, harus diakui BWP tidak bisa besar seperti saat ini tanpa Tjipto. “Ini tidak bisa dilihat dari keahlian teknis. Saya melihat Pak Tjipto sebagai sosok yang mendukung apa yang disarankan direksi,” ungkapnya. Halim mencontohkan bagaimana saat itu idenya didukung untuk menggunakan pupuk termahal buat memaksimalkan hasil produksi yang sekarang dinikmati BWP.

Ketika ditanya tentang kiprah suksesnya membesarkan BWP, Tjipto mengatakan, “Saya percaya kami harus melewati belajar. Segala sesuatu tidak bisa instan. Semua ada waktunya. Dalam perkebunan kelapa sawit, menanam, menambah, menghasilkan, ekspansi, rugi, untung, semua ada waktunya. Saya dulu ingin serba instan. Ternyata semua step harus kami jalani.”

Sebuah pelajaran yang berharga tentunya. Ya, sudah pasti bila ingin sukses, setiap tahap bisnis mesti dijadikan pelajaran untuk perbaikan dan pengembangan. Jangan sampai terjebak mengurusi problem yang sama dari tahun ke tahun, tanpa melakukan hal-hal strategis untuk mewujudkan visi besar perusahaan. Bagaimana dengan perusahaan Anda?


Reportase: Moh. Husni Mubarak