Jumat, 03 April 2009

Sukses Karena Bisa Membuat Proposal Bisnis. Mungkinkah?

Bisa Sukses Karena Pandai Membuat Membuat Proposal Bisnis? Mungkin sekali. Ini buktinya!


Diantara sekian banyak kenalan saya dari jajaran pengusaha nasional ialah Pak Hardianto Husodo. Beliau pengusaha yang aslinya Semarang namun lama tinggal di Jakarta. Beliau ini juga pengusaha sukses yang benar-benar merintis sendiri kesuksesannnya. Maklum, ayahnya PNS dan sudah wafat ketika beliau belum memasuki dunia kerja alias masih kuliah.

Diantara cerita sukses beliau yang cukup menginspirasi, ialah soal kemampuan dan cara belajar beliau tentang proposal bisnis. Saya baru tahu kalau proposal bisnis itu penting, ternyata bisa jadi duit dan bisa mengubah jalan hidup seseorang. Beliau pernah bekerja di sebuah perusahaan semi BUMN yang banyak mendapat kiriman proposal bisnis dari daerah dan cabang-cabang. Nah, disitu beliau belajar bagaimana sih sebenarnya cara membuat proposal bisnis itu, apa yang ada di dalamnya dan hal-hal yang penting. Jadi beliau tahu seperti proposal bisnis yang baik itu. Pendeknya, karena bekerja di lembaga itu, beliau lalu jadi 'pinter' membuat proposal bisnis. Tak heran, beberapa pengusaha kemudian meminta beliau membuatkan proposal bisnis untuk beberapa proyek bisnis baru. Sebagai imbalannya, beliau mendapat uang jasa. Lumayan, sambil bekerja, juga ada pemasukan karena ada income dari kompetensi membuat proposal bisnis.

Pada tahapan selanjutnya, Pak Har bukan saja mendapatkan fee dari membuat proposal itu, namun menawarkan ide dan peluang bisnisnya, membuatkan proposal bisnisnya dan kemudian menjadi bagian dari pemegang saham. Modalnya apa? Ya modalnya kompetensi itu saja, tidak setor modal uang. Dalam hal ini kompetensi membaca peluang prospektif, kompetensi membuatkan proposal bisnisnya, kemampaun melihat dan mencarikan pasar, serta kemauan dan keberanian untuk memulai dan menjalan idenya itu bila dipercaya pemilik modal. Ini bukan cerita kosong.


Pak Har misalnya pernah mendirikan perusahaan AMDK dan pakan ternak dengan model seperti itu. Jadi beliau sebagai pemegang saham tanpa setor modal. Hanya modal pikiran, tenaga dan keberanian. Contoh lain, tahun 1987 beliau terpikir memiliki pabrik pakan ternak karena melihat bisnis itu cukup prospektif dan pasarnya cukup besar. Beliau tahu hitung-hitungan dan kelayakanan bisnisnya. Ide bisnis itu kemudian ditawarkannya ke seorang pengusaha besar dan ternyata menyambut baik. Jadi ketika itu modal Anto hanya konsep dan pikiran. Anto pula yang punya ide dan mengetahui pemasarannya. Ia juga bertanggung jawab untuk pengelolaan sepenuhnya. Ia membuat proposal yang kemudian ditawarkannya. “Kalau Pak Anto bisa jamin pasarnya, saya akan membiayai,” begitu sambutan pengusaha mitranya. Ternyata gayung bersambut.

Dari situlah Pak Har diberi saham 15% di perusahaan itu. Ini jelas nggak main-main. Punya 15% saham di perusahaan besar. Karena total investasinya di tahun 1987 sudah US$ 180 ribu atau sekitar Rp 1,8 miliar. Ingat, ini tahun 1987 lho. Untuk tahun-tahun itu, angka ini terbilang sangat besar lho. Waktu itu dollar masih Rp 2000-an. Pabriknya di Kerawang. Beliau menjadi salah satu direksi, tepatnya sebagai direktur operasional.

Luar biasa. Bermodal konsep, tenaga, kesungguhan dan keberanian, beliau bisa punya saham di perusahaan besar. Tentu saja beliau bangga, karena tanpa setor modal bisa memiliki perusahaan. Padahal usianya baru 30-an tahun. ”Inilah awal kebangkitan saya sebagai entrepreneur,” ujar beliau yang juga Ketua Asosiasi Perusahaan Lelang Indonesia itu. Beliau dari situ juga merasa percaya diri bahwa bisa menjadi entrepreneur.

Kisah Pak Hardianto memberi pelajaran bagi kita-kita yang muda-muda. Setidaknya untuk dua hal penting. Pertama, bahwa sangat mungkin kita menjadi pemilik dan pemegang saham di perusahaan besar tanpa modal uang. Tapi syaratnya, kita harus punya konsep, kompetensi, dan kemampuan mengeksekusi. Kedua, bahwa kompetensi membuat proposal bisnis itu ternyata penting dan bisa menghasilkan uang, dan bahkan bisa merubah nasib hidup seseorang. Dalam hal ini Pak Hardianto tadi hanya salah satu contoh saja. Pasti banyak pengusaha yg sukses melalui cara itu. Karena itu tak ada salahnya kita belajar soal proposal bisnis juga. Apalagi kalau pinjam ke bank atau investor juga ditanyai mana proposal bisnisnya.

Semoga kita semua menjadi orang sukses berikutnya! Sukses yang diberkati Sang Maha Pemberi. Amin.

(Catatan: Kisah dan lika-liku bisnis Pak Hardiyanto Husodo bisa dibaca di buku "10 Pengusaha Yg Sukses Membangun Bisnis dari 0" terbitan Gramedia)


Salam

Sudarmadi
http://kisah-kiat-sukses-bisnis.blogspot.com/

Senin, 30 Maret 2009

Mantan PNS yang Sukses di Bisnis Sawit


Bagi orang Kalimantan Timur, nama Luther Kombong sudah tak asing lagi. Maklum, selain pengusaha sukses, Luther termasuk tokoh daerah itu. Ia juga pernah di kursi Dewan Perwakilan Daerah mewakili provinsi ini.

Pengusaha berdarah Toraja yang tumbuh dan besar di Kal-Tim ini dikenal sebagai pengusaha unik. Luther sukses di bisnis perkebunan kelapa sawit, padahal jarang sekali atau bahkan hampir tak ada pengusaha lokal yang sukses di bisnis ini. Kebanyakan pengusaha lokal punya bisnis hak pengusahaan hutan (HPH). Tak heran, di Kal-Tim terdapat beberapa perkebunan sawit, tapi semuanya milik perusahaan besar dari luar Kal-Tim, seperti Astra Agro Lestari, Lonsum, Sinarmas, dan lain-lain.

Yang juga menarik, Luther termasuk pengusaha terpandang di Kal-Tim yang memulai semuanya dari bawah. Setamat SMA, Luther tak bisa kuliah karena keterbatasan ekonominya, sehingga ia kemudian memutuskan bekerja sebagai pegawai negeri sipil (PNS) di Dinas Kehutanan Kalimantan Timur. Namun ia memang pekerja keras dan sangat menyukai tantangan. Tak heran, ketika ia menjadi PNS, ia juga berusaha mencari kesibukan lain, yakni berbisnis kecil-kecilan. Luther pernah punya restoran, kantin, penyewaan kendaraan, hingga pernah menangani proyek pembangunan prasarana.

Boleh dibilang, sewaktu menjadi PNS ia sudah merasakan mendapatkan uang yang lumayan besar dari bisnis sampingannya. Sampai suatu ketika, dia dinasihati oleh seorang relasinya. “Kalau jadi PNS terus, kamu tak pernah akan bisa kaya atau cukup. Kamu harus mengubah nasib dengan menjadi entrepreneur. Apalagi kamu punya sifat dan karakter yang dibutuhkan untuk menjadi entrepreneur,” Luther menceritakan nasihat relasinya itu.

Sampailah pada 1986, di tahun inilah Luther mengajukan surat pengunduran diri sebagai PNS. Namun oleh atasan dan rekan kerjanya ia masih ditahan-tahan dan disarankan agar mengambil cuti di luar tanggungan negara saja. Saran itu sempat ia ikuti, tapi kelanjutannya ia tetap memutuskan keluar dari PNS. Semenjak itu ia menjalankan bisnis kontraktor. Ia banyak membangun jalan untuk proyek-proyek transmigrasi dan juga sempat mengerjakan beberapa proyek pemerintah daerah pada masa awal bisnisnya. Akan tetapi dalam perjalanannya kemudian, ia tak berminat lagi mengerjakan proyek-proyek Pemda. Alasannya, urusannya terlalu bertele-tele dan sangat birokratis. “Kalau birokratis tapi wajar, mungkin masih bisa tahan. Tapi ini lain, kami sudah kerja setengah mati tapi uangnya susah keluar. Nunggunya setengah mati. Kami bekerja tapi seperti pengemis. Sejak itu kami tak tertarik lagi mengerjakan proyek-proyek pemerintah,” Luther menceritakan pengalaman pahitnya di masa awal membangun bisnisnya.

Belajar dari situ, Luther kemudian hanya bersedia bermitra dengan perusahaan swasta murni. Ia lalu dipercaya oleh sejumlah perusahaan besar semisal Sumalindo. “Sukses dipercaya oleh perusahaan-perusahaan besar itulah yang membuat saya beranjak naik,” katanya mengakui. Tak heran, bisnis kontraktornya tumbuh sangat pesat. “Seperti balon ditiup,” kata ayah tiga anak yang sekarang mondar-mandir Jakarta-Samarinda ini.

Kendati begitu, sukses Luther tak serta-merta membuatnya puas. Ada kegelisahan dalam hatinya. Ia melihat bisnis kontraktor begitu tergantung pada pihak lain. “Bisnis kontraktor hanya bisnis jasa kontrak karya. Ketika kami nggak dipakai lagi, maka kerjaan tak ada. Kami ingin bisnis yang long-term, bukan bisnis kontraktor seperti ini,” Luther berujar. Pilihan yang ada di kepalanya adalah bisnis hotel, rumah sakit, sekolah, atau perkebunan. Namun, ia melihat, berbisnis hotel, rumah sakit dan sekolah di Kal-Tim waktu itu belum memungkinkan. Sementara bisnis tambang batu bara terlalu banyak unsur perjudiannya, sehingga ia kurang tertarik. Setelah menimbang banyak hal, ia memutuskan masuk ke bisnis perkebunan sawit. “Saya pikir bisnis ini paling cocok untuk Kal-Tim karena alamnya memang memungkinkan,” ujar Luther.

Tahun 1998, ia sempat ditawari Departemen Kehutanan untuk memiliki izin HPH. Namun dengan tegas Luther mengatakan bahwa yang dia butuhkan adalah lokasi untuk perkebunan. Tentu saja langkah Luther ini lain dari kebanyakan pengusaha daerah yang lebih suka berbisnis HPH, karena tinggal tebang pohon dan cepat mendapatkan uang. Tahun 1998 itu Luther diberikan hak pemanfatan hutan untuk ditanami perkebunan kelapa sawit seluas 20 ribu hektare. Sejak itulah kiprah Luther di bisnis sawit terus bergulir. Tahun 1999, ia langsung menanam. Kebetulan sekali, waktu itu ia bisa memperoleh bibit bagus dari PT London Sumatera Plantation – yang saat itu gagal menanam karena didemo warga.

Untuk menggulirkan bisnis perkebunan sawit lewat bendera PT Dwimitra Lestari Jaya ini, Luther hanya mengandalkan modal sendiri. “Saya memakai tabungan sendiri dari hasil keuntungan bisnis-bisnis saya sebelumnya,” katanya mengenang. “Makanya pertumbuhan kami nggak bisa secepat mereka yang menggunakan kredit bank,” lanjutnya merendah.

Toh, kini bisnis sawit Luther terus berkembang. Konsesi perkebunan yang dipegangnya mencapai 35 ribu ha (di Sangkurilang dan Berau). Hanya saja, konsesi yang kedua (15 ribu ha) masih baru dan kini dikelola putra pertamanya. Dari kebun lamanya sudah 8 ribu ha yang tertanami, dan 3 ribu ha sudah berbuah (panen). Kebun sawitnya itu menyerap sekitar 1.600 tenaga kerja, yang sebagian pekerjanya didatangkan dari desa-desa miskin di Pulau Jawa. Di kebun sawit itu sendiri sudah terdapat pabrik pengolahan sawit dengan kapasitas 30 ton per jam, yang rencananya bakal ditingkatkan menjadi 60 ton per jam.

Langkah Luther tak berhenti di situ. Di lahan perkebunannya, ia juga mendirikan perusahaan kayu lapis (plywood) dan vinil skala sedang. Maklum untuk bisa melakukan penanaman, lebih dulu harus dilakukan pemotongan kayu hutan dengan ukuran diameter 20-30 cm. Agar tak ada kayu-kayu yang terbuang menjadi limbah, ia berpikir sebaiknya mendirikan pabrik pengolahan kayu. Ini juga sesuai dengan aturan pemerintah yang tak membolehkan dilakukan pemusnahan dengan cara pembakaran. “Satu-satunya cara ya diolah menjadi plywood,” katanya. Karena itu ia mendirikan PT Panca Karya Marga Bakti yang membuat kayu lapis dan sekarang mempekerjakan 400-an karyawan.

Luther merasa sangat bersyukur, karena merasa dari tak punya apa-apa, hingga sekarang punya bisnis yang berkembang. Contohnya, ia kini memiliki ratusan alat berat sendiri yang diperoleh dari membeli secara leasing. Apalagi ia juga punya aset properti bagus di Samarinda Seberang seluas 100 ha yang sedang dibangun proyek perumahan Samarinda Baru (sekitar 1.000 unit rumah). Sebelum krisis ia mengaku membeli tanah itu dengan harga Rp 15-20 ribu per m2, tapi kini harganya sudah Rp 500 ribu per m2. “Kalau dihitung (nilai asetnya itu) sekarang sudah di atas Rp 1 triliun. Padahal waktu krisis saya sempat mengira ini langkah bisnis saya yang salah,” ujar Luther yang juga berencana membangun hotel berbintang di lokasinya itu.

Dari perjalanan bisnisnya itu, Luther menyimpulkan bahwa sukses berbisnis membutuhkan lima prinsip, yakni: mau bekerja keras; punya keberanian (berani mengambil keputusan); jujur (agar meraih kepercayaan dari mitra); memelihara lingkungan; dan punya manajemen/administrasi yang baik. Soal jujur, contohnya, amat penting untuk mendapatkan kepercayaan orang. “Kalau sudah dipercaya orang berarti kami sudah menjadi orang kaya. Karena orang kalau sudah percaya akan berani meminjamkan barangnya atau uangnya kepada kami. Kalau kami tidak dipercaya maka hubungan itu akan putus,” tutur Luther yang kini lebih banyak menyerahkan operasional bisnisnya kepada anak pertamanya.

Meski bisa tumbuh sebagai pengusaha sukses, Luther mengaku sebenarnya memiliki banyak keprihatinan terhadap iklim bisnis sawit di Tanah Air. Menurutnya, kepastian hukum di Indonesia masih lemah. Juga belum ada political will dari pemerintah untuk memajukan pengusaha. Sejauh ini menurut Luther pemerintah belum melihat mana pengusaha yang serius, membayar pajak dan mempekerjakan banyak orang, serta mana pengusaha yang sekadar berpetualang. Ia berpendapat, pengusaha yang serius ingin membangun industri, seharusnya diberi insentif. “Tapi di Indonesia yang legal dan ilegal hanya beda-beda tipis. Malah birokrat lebih suka yang ilegal karena sogokannya tinggi,” katanya dengan nada meninggi. “Kita tertinggal jauh dari Malaysia,” tambahnya. Jaminan keamanan juga dinilainya masih lemah sehingga banyak perkebunan sawit yang dirusak warga. Belum lagi bunga bank cukup tinggi. “Kalau kondisinya kondusif, kami pasti sudah bisa tanam 20-30 ribu hektare sampai sekarang,” ujar Dirut PT Dwimitra Lestari Jaya ini seraya berharap.

Dibalik sukses jaringan restoran Jepang Takigawa

Sukses Berbisnis Sukses Bercinta ala Andrian-Renny

Inilah kisah dibalik sukses jaringan restoran jepang Takigawa yang populer itu.

Sudarmadi


Memadukan romantisme dan bisnis. Terdengar sepele, tapi nyatanya tak banyak pasangan yang bisa melakukannya. Dan, di antara yang sedikit itu adalah pasangan Andrian Rosano dan Renny F. Kedua insan yang sama-sama lahir tanggal 10 Februari 1972 ini sudah berpacaran sejak di bangku SMP kelas dua. Keduanya sama-sama mengaku first love, tak pernah putus barang sehari pun, dan berujung di pelaminan setelah menjalin kasih selama 10 tahun. Namun yang lebih menarik, pasangan muda ini sukses pula merintis bisnis dari titik nol.

Perusahaan yang dibangun sejoli ini sekarang dikenal sebagai raja bisnis penyewaan dan dekorasi tenda di Indonesia. Jasanya sudah sering dipakai kalangan berduit di Jakarta dan beberapa kota besar lain. Tak hanya itu, Andrian-Renny dalam lima tahun terakhir juga sukses mengorbitkan jaringan restoran Jepang yang kini lagi naik daun, Takigawa.

Meski sudah lama memadu kasih, sejarah bisnis pasutri ini baru dimulai saat keduanya kuliah di Universitas Trisakti. Modalnya seadanya. Namun, buat Andrian itu bukan pengalaman pertama. Semasa masih bersekolah di sebuah SMA di Surabaya, ia biasa berdagang produk hasil bumi impor. Ia biasa membeli hasil bumi seperti bawang dari Pelabuhan Tanjungperak, lalu ia jual ke para pedagang di pasar-pasar Surabaya. “Pokoknya apa saja saya lakukan untuk menyambung hidup di Surabaya,” kata Andrian mengenang. Sewaktu kembali ke Jakarta dan kuliah di Fakultas Hukum Trisakti, Andrian pun kuliah sambil berbisnis. “Karena itu, saya dikenal oleh teman-teman sebagai PDG, alias pedagang, hahaha,” ujarnya.

Bersama Renny, ia kemudian mendirikan perusahaan dagang (trading company). “Waktu itu saya dagang secara serabutan. Dagang apa saja. Saya pernah jadi agen pemasang iklan mini. Pernah juga jadi agen koran dan majalah yang bisnisnya mulai dari jam tiga pagi,” ungkapnya. Karena disambi, Andrian mengaku baik bisnis maupun studinya kurang optimal. Namun, bila pada jadwal kuliah ada janji bertemu relasi bisnis, biasanya ia memilih meninggalkan kuliah demi bisnis. Tak heran, beberapa kali ia mengajukan cuti kuliah dan sering menghilang dari kampus. Ia merasa kuliahnya bisa selesai karena desakan orang tua dan calon mertua.

Sewaktu menjadi agen sebuah media Andrian merasa memperoleh pengalaman penting yang kelak memengaruhi pilihan bisnisnya. Selama menjadi agen media itu ia merasa diperlakukan kurang fair. Karena masih muda dan termasuk agen baru, ia hanya diberi diskon 20%, sedangkan agen lain mendapat diskon 30%. Dengan cara itu ia merasa bisnisnya tidak akan kompetitif dan sulit menjadi nomor satu. “Katanya sih memang ada mafianya juga,” ujarnya. Tak heran, sejak itu Andrian bercita-cita suatu saat kalau membesarkan bisnis sendiri tak ingin tergantung pada prinsipal. “Saya harus jadi prinsipalnya, supaya saya bisa menentukan strategi saya sendiri,” katanya tandas.

Untuk menemukan bisnis yang tak tergantung pada prinsipal itu, pasangan Andrian-Renny sudah mencoba menjalankan berbagai bisnis, seperti bisnis parsel. Ketika naik pelaminan, muncullah ide untuk berbisnis penyewaan dan dekorasi tenda. Sumber inspirasinya adalah sebuah buku perkawinan terbitan luar negeri. “Kenapa kami tidak mencoba membuat seperti ini sendiri?” pikir Andrian kala itu. Kebetulan pula, tenda seperti dalam buku itu belum ada di Indonesia. Keduanya lalu memutuskan dekorasi dan tenda pelaminan mereka dibuat sendiri, dengan bantuan teman-teman. “Menjelang tengah malam midodareni, calon pengantin prianya masih ada di genteng, pasang-pasang tenda sendiri,” kata Renny mengenang sembari tertawa.

Ternyata, sebagian besar tamu yang datang memuji tendanya. Karena itulah, Andrian-Renny berpikir untuk membisniskannya saja. Apalagi, keduanya merasa, bisnis penyewaan dan dekorasi tenda seperti yang mereka inginkan, belum dimasuki orang lain. Tahun 1995, pasangan ini mulai menggelindingkan bisnis penyewaan dan dekorasi tenda, menyasar kalangan menengah-atas.

Bisnis ini dikibarkan dengan merek Ten Party dengan payung usaha PT Cipta Arta Sepuluh – nama ten dan sepuluh dipakai untuk mengenang pasangan ini sama-sama lahir tanggal sepuluh dan hingga saat itu telah berpacaran sepuluh tahun. Desain, model, warna dan bahan-bahan tenda Ten Party dirancang sendiri. Bersamaan dengan dimulainya bisnis tenda, usaha trading lainnya ditutup. “Kami harus fokus. Semua modal kami alihkan ke bisnis tenda ini,” katanya. Waktu itu modal awalnya sekitar Rp 400 juta, diambil dari keuntungan dan modal bisnis sebelumnya. Uang sebanyak itu habis untuk membeli bahan-bahan tenda, gudang, dan perlengkapan pendukung.

Ternyata bisnis tenda tak segampang yang dibayangkan. “Awalnya susah banget. Segala upaya promosi kami lakukan, tapi nggak ada yang menelepon,” Renny membeberkan. Upaya promosinya antara lain lewat radio, media cetak, bikin spanduk, dan membagikan brosur. Bahkan, pengantin baru ini sampai membagi-bagikan brosur ke pom-pom bensin dan persimpangan lampu merah. Toh, belum kunjung datang hasilnya. “Rupanya konsumen ngeri, tenda kami dianggap terlalu bagus. Apalagi, waktu itu tema promosi kami adalah ‘Hadirkan Ballroom di Halaman Rumah Anda’,” ujar Andrian mengenang. Spesifikasi tenda dan dekorasinya memang cukup keren: memakai lampu gantung, lantainya parket, dan sebagainya. Harga sewanya juga 10 kali lipat dari harga sewa pada umumnya. Kalau yang lain Rp 2.000 per m2, tarif sewa tenda Ten Party Rp 20.000 per m2.

Toh, sesulit-sulitnya jalan pasti ada celahnya. Rupanya setelah beberapa bulan dikibarkan, ada satu-dua orang yang kemudian tertarik mencoba jasanya. “Mereka ini kelompok orang yang tidak peduli dengan harga, yang penting hasilnya bagus. Beliau-beliau inilah yang memakai jasa kami di masa awal,” kata Andrian. Dari sedikit orang itu lalu berkembang menjadi banyak pelanggan. Maklum, setelah mereka melihat hasilnya langsung di pesta yang dihadiri, mereka merasa terkesan. “Dari satu pesta menjadi tiga pesta. Dari tiga pesta menjadi 9 pesta, dan seterusnya. Bisnis kami berkembang seperti telur yang menetas. Karena itu, kami yakin sekali, promosi paling efektif di dunia ialah dari mulut ke mulut (word of mouth). Apalagi, bisnis kami ini bukan produk massal, tapi butik,” Andrian menerangkan dengan serius.

Dari getok tular itulah bisnis tenda Ten Party makin berkembang, bahkan juga ke luar kota seperti Medan, Bandung, Surabaya, Makassar dan Samarinda. Jika pada bulan-bulan pertama sebulan hanya mengerjakan pesanan satu pesta, menginjak tahun kedua per minggu bisa mengerjakan 7 event pesta. Ketertarikan para pengguna ini disebabkan desainnya yang berkelas, indah, unik dan customized (misalnya, pengguna bisa memesan modelnya sesuai dengan selera apakah modern, klasik, etnik, dan sebagainya). Jurus layanannya adalah menghadirkan suasana ballroom di halaman rumah klien, dengan modal peralatan dan tendanya.

Hingga kini tak sedikit kalangan menengah-atas yang menjadi pelanggan Ten Party. “Misalnya pernikahan kalangan selebriti seperti Syahrul Gunawan, Cut Tari, Tia Ivanka. Kalau dulu pernikahan Mbak Tata & Mas Tommy, Yenny Rachman, Dandy Rumakna & Lulu Tobing, dan lain-lain. Kami nggak enak menyebutkan satu-satu,” papar Andrian. Setelah itu, ternyata juga ada beberapa perusahaan yang menyewa jasa Ten Party untuk mendesain venue di proyek properti mereka. “Kami juga dipandang sebagai konseptor venue karena biasa menyulap sebuah tempat menjadi seperti yang diinginkan pemiliknya. Banyak orang besar yang meminta bantuan kami,” ungkap Andrian sambil menambahkan, soal tarif buat mereka tergantung pada kompleksitasnya, dari Rp 15 juta (di dalam gedung) hingga di atas Rp 1 miliar. “Ini bisnis seni, sulit ditetapkan standar harganya,” Andrian menegaskan.

Mince Tinton Suprapto adalah salah satu pelanggan sekaligus mitra bisnis Ten Party. Istri pembalap senior Tinton Suprapto ini juga berbisnis di bidang dekorasi, tapi bidangnya nontenda. “Saya sering pakai Mas Andrian untuk acara-acara di sirkuit Sentul,” kata Mince. Ia mengaku klop dengan pengelola Ten Party, sehingga kerja samanya cukup awet. “Andrian bisa mendesain dan memvisualiasi konsep-konsep desain yang saya inginkan,” tutur ibunda Ananda Mikola dan Moreno ini.

Meski Ten Party kini sudah bisa dibilang sukses, bukan berarti tidak ada riak dalam perjalanannya. Contohnya, Ten Party pernah mengalami overload. Karena permintaan yang membludak – pernah dalam sehari mengelola 10 event pesta – Ten Party sempat kewalahan. Tenaga kerja dan peralatannya diambil secara cabutan. “Waktu itu kami merasa bisa mengerjakan dengan mudah. Padahal ada sesuatu yang kami lupakan. Semua dibuat berdasarkan sistem sehingga personal touch seorang Andrian jadi berkurang. Tak heran ada beberapa pelanggan yang komplain kenapa tidak sebagus biasanya,” Andrian bercerita. Belajar dari sana, Ten Party mulai membatasi per minggu maksimum mengelola lima acara pesta. Kecuali, kalau ada permintaan dari pelanggan lama yang sudah loyal. “Misalnya keluarga Mbak Tutut. Bila tiba-tiba telepon minta tolong untuk mengelola acara keluarganya, masak kami mau menolak? Nggak mungkin, apalagi beliau sudah lama memakai jasa kami.”

Menjelang tahun kelima bisnis tendanya, Andrian-Renny mulai memikirkan bisnis lain yang dibutuhkan di tiap pesta selain dekorasi dan tenda. Mereka melihat peluang di bisnis katering. “Food & beverage biayanya terbesar di tiap pesta,” Andrian memberi alasan. Namun, ia berpikir tak asal menyediakan jasa katering, melainkan harus bisa menyediakan makanan sehat yang siklusnya bisa bertahan lama. Dari situ dipilihlah masakan Jepang. Kebetulan Andrian-Renny dan anak-anak mereka memang penggemar berat masakan Jepang, sehingga tahu cukup banyak. “Waktu itu belum ada katering masakan Jepang yang menonjol. Yang ada dari hotel-hotel besar saja,” kata Andrian.

Agar usaha katering masakan Jepang ini sukses, pasangan ini tak mau tanggung-tanggung. Mereka menyempatkan pergi ke Jepang untuk survei masakan Negeri Matahari Terbit itu, hingga masuk ke jalan-jalan dan warung-warung kecil di Tokyo. Keduanya mencari ide-ide masakan Jepang dan cara mengolahnya, termasuk masakan yang belum dipopulerkan resto-resto Jepang di sini tapi potensial dikembangkan. Kesimpulannya, mereka harus berani menghadirkan jasa katering masakan Jepang yang lengkap. Simpelnya, seperti lima restoran disatukan. Ada sukiyaki, chankonabe, sushi, shabu-shabu, dan sederet masakan Jepang lainnya.

Agar investasinya cepat balik, Andrian berpikir sekalian saja mendirikan restoran Jepang. Pasalnya, kalau cuma mengandalkan jasa katering, sulit sekali mencapai titik impas, sebab dapur dan peralatannya khusus dan mahal. Toh, mereka terbentur masalah besar, yakni: modalnya belum ada.

“Modalnya belum ada. Kami kan bukan anak konglomerat. Jadi, kami harus menabung dulu dari bisnis Ten Party,” ujar Andrian. Baru sekitar empat tahun sejak ditemukannya ide itu, Andrian-Renny merealisasikan usaha katering plus resto Jepang. Resto besutannya itu dinamai Takigawa – dalam bahasa Jepang, takigawa berarti air terjun yang mengalir. Gerai pertama di Jl. Panglima Polim, Jakarta Selatan. Jadi, di resto ini pula usaha katering masakan Jepang digelindingkan bersama-sama. Luas tanahnya 350 m2 dan kapasitas tempat duduk untuk 120 orang. “Kami tidak menyewa konsultan atau manajer. Kami berdua inilah manajer dan konsultannya,” kata Andrian mengenang saat merintis usaha resto lima tahun lalu.

Toh, lantaran tak ingin gagal, Andrian-Renny membajak 7 orang chef terbaik dari 7 resto Jepang paling top di Jakarta. Ketujuh ahli masak ini dijadikan karyawan, dan dengan mereka, Andrian-Renny mengajak bersama untuk menemukan formula masakan Jepang yang sesuai dengan lidah konsumen Indonesia. “Kami tak semata-mata mengumpulkan menu dari ke-7 orang itu. Kalau cuma itu nanti jumlah menu kami bisa banyak banget, dan kalau dibukukan bisa setebal Al Quran. Kami menciptakan menu baru yang harus lulus tes lidah 9 orang tadi,” Andrian menguraikan. Dengan cara ini, Takigawa bisa melahirkan menu-menu masakan yang lengkap dan disukai, selengkap empat-lima restoran dijadikan satu. Sebagai contoh, ada nigiri sushi, kamameshi, kushiyaki, sashimi, temaki, shabu-shabu, dan bakmi. “Kami salah satu pionir jenis restoran Jepang bernuansa fusion cuisine di Jakarta,” ucap Andrian bangga. Sebagai konsekuensi pencampuran ide itu, apalagi dapurnya juga melayani jasa katering, membuat dapur Takigawa complicated. Tak heran, untuk dapur saja butuh tiga lantai sendiri.

Cara promosi yang dilakukan sejoli ini untuk mengorbitkan Takigawa juga menarik. Yakni dengan merekrut selebriti dan kalangan sosialita untuk jadi PR agent Takigawa. Misalnya ada Marissa, Ivy Purwita, Dina Lorenza dan Davina Veronica. Mereka ini sosok yang sering tampil di majalah-majalah sosialita. “Daripada ngerumpi doang, mereka kami ajak ngerumpi di Takigawa, dan dapat gaji lagi,” ungkap Andrian. Sebenarnya tujuan Andrian mengajak komunitas artis itu agar mereka mau mencoba sajian di Takigawa. Karena itu, sebagai endorser mereka hanya dipakai dua-tiga bulan, dan biasanya lalu diganti selebriti lain. “Sebab, kalau sudah dua-tiga bulan seluruh kawan dan keluarganya mungkin sudah diajak ke Takigawa. Dari situ diharapkan akan ada beberapa pelanggan yang sudah mencoba kemudian loyal,” Andrian membeberkan jurusnya.

Kombinasi citarasa masakan yang pas, plus promosi yang mengena, rupanya membuat penetrasi Takigawa relatif cepat. Adapun bisnis kateringnya berjalan dengan baik pula. Sehingga, sejoli ini makin percaya diri untuk membuka gerai berikutnya, yakni di La Piazza, Kelapa Gading, mal milik Grup Summarecon. Bila luas lahan untuk gerai pertamanya hanya 350 m2, di La Piazza luasnya lebih dari 1.000 m2. “Sampai sekarang gerai kami yang terbesar masih di La Piazza,” kata Andrian. Menariknya lagi, untuk menempati gerai ini Takigawa tidak dikenai biaya sewa sepeser pun karena memakai pola bagi hasil (revenue sharing). “Kami ke sana cuma bawa peralatan dapur dan furnitur, selebihnya sudah disediakan manajemen La Piazza. Sangat efisien,” ungkapnya bangga. Konon, ini semua bagian dari tanda terima kasih Sutjipto Nagaria, pemilik Grup Summarecon, karena Andrian telah membantu mengonsep dan mendesainkan venue La Piazza. Resto ini juga disambut pasar cukup baik. Karena itu, tahun berikutnya Andrian-Renny langsung membuka lagi satu gerai Takigawa di Setiabudi One (Atrium Setiabudi), Kuningan, Jakarta.

Melihat resto Takigawa yang selalu ramai, beberapa pelanggan Takigawa datang ke Andrian-Renny agar mereka diberi kesempatan memiliki Takigawa. “Terus terang kami awalnya bingung bagaimana memenuhi permintaan teman-teman itu,” cerita Andrian. Karena merasa tidak enak, akhirnya Andrian mempersilakan teman-temannya untuk bekerja sama dengan pihaknya menggunakan pola waralaba. Wulan Guritno dkk. (beranggota belasan orang) misalnya, sudah mendirikan Little Takigawa di Cilandak Town Square (Citos) dengan area seluas 65 m2 untuk 46 orang. Gerai berukuran kecil seperti itu rupanya memberikan efek positif. Karena orang harus mengantre untuk masuk Takigawa Citos, sehingga kelihatan makin heboh. Gerai di Citos ini pun tergolong sukses. “Baru satu tahun dua bulan sudah balik modal full. Makanya, Wulan Guritno dan kawan-kawan itu berminat beli franchise lagi untuk buka di Senayan City.” Untuk gerai di Senayan City ini, investor Wulan Guritno dkk. bertambah lagi dengan masuknya Krisdayanti, Ami Gumelar dan Putri Guntur.

Kinerja gerai Takigawa di Senayan City tak kalah menggembirakan, sehingga sering jadi pembicaraan di kalangan selebriti. Tak heran, Mayangsari dan Ussy Sulistyowati kemudian mengambil waralaba Takigawa untuk membuka gerai di Grand Indonesia. “Terus terang kami nggak pernah menawarkan franchise kami. Mereka yang datang meminta ke kami karena sudah menjadi pelanggan Takigawa. Kami setujui beberapa figur supaya sekalian bisa jadi public relations,” tutur Andrian. Namun, ia menegaskan prinsipnya tak ingin menjual hak waralabanya secara massal. Karena itu, ia tak pernah mau ikut pameran. “Resto kami ini resto butik. Kami harus hati-hati mengembangkannya. Kami tidak cari uang dari menjual royalti waralaba. Kami juga harus memastikan investor kami untung,” Andrian menuturkan beberapa prinsip bisnis restonya. Itu saja tak cukup. Harus didukung dari sisi komunikasi. “Kami dan dia (investor) juga harus klop kalau mengobrol, karena kerja sama franchise untuk 10 tahun. Bayangkan, kalau 10 tahun bertengkar melulu? Harapan kami, kalau berbisnis selain dapat uang juga harus senang kan.”

Andrian menambahkan, saat ini sudah ada calon franchisee yang segera membuka gerai di Surabaya dan Singapura. “Investor ini orang-orang top di Jakarta, tapi mereka belum mau namanya disebutkan,” ujarnya. Di Surabaya, Andrian mewajibkan sang investor membuka sedikitnya dua gerai, sedangkan yang di Singapura paling tidak tiga gerai. “Supaya ngurusin-nya nggak tanggung-tanggung,” katanya beralasan. Kalau dihitung-hitung, seluruh gerai Takigawa yang sudah ada sekarang telah menyediakan total sekitar 650 tempat duduk. Soal ekspansi bisnis restonya yang tergolong kencang ini, Andrian mengaku dirinya tak punya target tertentu. “Kami tidak mau terlalu agresif. Sembari jalan saja, kalau ketemu orang yang klop dan momentumnya pas, ya kami buka saja,” ucapnya santai.

Wulan Guritno, salah satu mitra bisnis restonya, mengaku tertarik ikut menjadi investor karena faktor orangnya. “Saya kenal Mas Andrian sudah lama. Meskipun sudah sukses, dia tetap mau giat terjun ke bawah, sehingga kami sangat percaya. Dan, orangnya enak diajak komunikasi,” ujar artis yang membintangi film Nagabonar Jadi Dua itu. Selain itu, lanjut Wulan, sebagai franchisor Andrian tidak mendoktrin ini-itu. Melainkan, semua didiskusikan bersama dengan pihak investor. “Dia selalu terbuka dengan investornya untuk melakukan perbaikan. Karena itu, kami happy banget dengan dua resto yang kami sudah buka,” Wulan menambahkan.

Strategi menjaga eksklusivitas juga diterapkan Andrian-Renny di bisnis Ten Party, yakni per minggu hanya menangani lima event. “Kami ingin melayani pasar kami sendiri yang sudah loyal selama ini.” Bisnis tenda dan dekorasinya itu ternyata sudah pula diwaralabakan lima tahun lalu, sebab banyak yang tertarik setelah melihat Ten Party menggelar tendanya di beberapa kota besar seperti Medan, Makassar, Bandung, Semarang, Surabaya dan Samarinda. “Ten Party termasuk bisnis tenda dan dekorasi yang sudah punya mitra waralaba,” katanya bangga. Franchisee Ten Party antara lain sudah ada di Bandung, Surabaya dan Samarinda. “Kami di Jakarta yang jadi motor desainnya, dan alat kami juga diputar hingga ke daerah,” ungkap Andrian.

Kini, bisnis Andrian-Renny sudah mempekerjakan lebih dari 200 orang. Menariknya, mereka memberikan bagian saham di perusahaan holding kepada beberapa karyawan senior yang sudah menunjukkan loyalitas, kompetensi dan kejujurannya. “Saya berharap ini bisa menjadi tabungan bagi anak-anak mereka kelak ketika mereka sudah tidak bekerja lagi,” kata Andrian bijak. Ya, selama ini sang pasutri mengelola perusahaannya dangan cara kekeluargaan, seperti hubungan bapak-ibu dengan anak-anaknya. Setiap karyawan bebas meneleponnya untuk konsultasi. Tak heran, karyawannya cukup loyal. “Tujuh chef yang kami ajak saat pertama mendirikan resto juga belum ada satu pun yang keluar,” kata Andrian sembari menyebutkan bahwa bisnis utamanya adalah bisnis tenda.

Lebih lanjut ia menjelaskan, salah satu resep bisnisnya bisa maju – baik di bisnis tenda maupun resto – adalah karena inovasi. Apalagi di kedua bisnis itu kini persaingannya makin ketat. Di bisnis tenda misalnya, kini banyak pengusaha keturunan India dan Tionghoa yang masuk. Kalau dulu ia tergolong perintis yang membuka pasar, sekarang pemainnya sudah ratusan. “Kami bisa bertahan karena inovasi. Kalau kami meleng sedikit saja pasti disalip kompetitor,” katanya. Menyadari tingkat persaingan yang tinggi, semua desain Ten Party telah dipatenkan agar tidak dijiplak seperti pada era sebelumnya. Cara ini juga dilakukan di bisnis resto yang dapurnya dipusatkan di kediaman mereka di bawah komando langsung Renny, supaya aman dari peniruan.

Andrian yang lebih suka disebut sebagai “tukang tenda sejati” ketimbang pengusaha resto ini juga menyebutkan bisnisnya bisa berkembang karena dari awal ditekuni sendiri. “Kami sendiri yang mengopeni. Kami percaya, kalau menekuni bisnis sebaiknya memang mesti menceburkan diri, dan mendalami agar benar-benar bisa mengerti. Sehingga apes-apesnya bisnis kami nggak jalan atau tutup, paling tidak kami sudah dapat satu, yaitu ilmunya. Ilmu itu modal yang paling mahal kalau ingin sukses,” Andrian menerangkan filosofinya. “Lagi pula, bisnis yang diopeni dan ditekuni sendiri oleh sang pemilik, biasanya akan lebih maju karena ada personal touch dan passion dari sang pemilik.”

Buku Penting Bagi Yg Ingin Sukses Merintis Bisnis Sendiri


Salam sejahtera buat semua

Just info bagi semua sahabat dan pembaca, khususnya yang sedang belajar bisnis dan yg ingin suatu saat punya bisnis sendiri. Jangan lewatkan buku Gramedia Pustaka Utama (GPU) tentang entrepreneurship berjudul " 10 PENGUSAHA YANG SUKSES MEMBANGUN BISNIS DARI O (NOL)" ditulis Sudarmadi. Buku ini sangat relevan dan dibutuhkan bagi yang ingin sukses memulai dan merintis bisnis sendiri. Buku ini mengulas kiat2 dan rahasia sukses 10 pengusaha besar yang sudah terbukti sukses membangun bisnis dari nol. Pengusaha yang diulas adalah mereka benar2 sudah terbukti sukses, dengan bisnis yang sudah mapan. Mereka ini sukses karena perjuangannya sendiri, bukan bisnis warisan ortunya sehingga sisi pembelajarannya cukup banyak yang diulas jatuh-bangunnya.

Ke-10 pengusaha ini bidang bisnisnya juga berbeda2. Ada yang bisnisnya fashion, aparel, tas, sepatu, tambang, jasa kurir/logistik, perikanan, jasa hukum, lelang, main dealer mobil/motor dan consumer good. Rata-rata karyawannya sudah ribuan. Mereka bercerita rahasia suksesnya dan hal-hal terpenting dalam merintis dan membesarkan bisnis. Buku ini cukup tebal... 390-an halaman..karena kisah dan jatuh-bangunnya saat perintisan diulas semua.

10-pengusaha1

Saya kira buku ini sangat perlu buat kawan2 peminat entrepreneur, dari sini kita bisa belajar dari orang yang sudah terbukti (proven) dalam membangun bisnis hingga skala besar. Diantara yang diulas, pengusaha tas dari Bandung pemilik tas merek Exsport, Eiger, Bodypack (dll) yang ternyata dia itu waktu memulai modalnya nggak sampai Rp 1 juta, namun kini omsetnya sudah ratusan miliar dan karyawannya 2.000 orang (belum termasuk ribuan pengrajin plasma yang diajak). Orang ini bercerita panjang-lebar kenapa sukses dan bagaimana sulitnya dulu dia menembus untuk bisa diterima sebagai pemasok di jaringan Matahari dan Ramayana.

Lalu, ada pengusaha perikanan dari Jatim alumni IPB yang dulu modalnya pinjam pamannya namun kini salah satu eskportir terbesar di Indonesia. Orang ini bisa kuliah karena sambi ngajar privat di SMA-SMA, orang tuanya nggak mampu. Tapi kini karyawannya 5.000 orang.

Ada juga mantan karyawan Astra yang kini sukses mengelola usaha sendiri di bisnis sepatu dan karyawannya juga sudah 9.000 orang. Padahal pengusaha sepatu ini awalnya hanya penjaga gudang di Batik Semar. Orang ini kepercayaan Nike di Indonesia.

Yang juga menarik, pengusaha kurir yang usianya belum genap 40 tahun namun sudah punya karyawan 2.000 orang. Orang ini dulunya supervisor di Dinners Club yang kemana2 gelantungan naik bus kota di Jakarta, tapi kini sukses membangun bisnis kurir dengan modal jual cincin mas kawin.

Bagi para peminat usaha di bidang dealer atau distributor, ada profil menarik Rudy Suardana. Dia pengusaha Kaltim yang sukses menjadi main dealer mobil dan motor Suzuki di Kaltim. Dia dulu dibesarkan di panti asuhan lho. Kawan-kawan bisa belajar bagaiamana sih inti bisnis dealership itu. Apa yang harus dilakukan kalau ingin survive.

Tak hanya itu, bagi para peminat bisnis consumer good seperti makanan, minuman, farmasi, dll, ada pengusaha muda yang bisa dipelajari. Dia pemilik Group Kino yang awalnya hanya distributor kecil namun lalu mengembangkan diri menjadi pemain besar di consumer good.

Ada juga pengusaha sukses di bisnis lelang. Beliau awalnya jualan kue namun terus rajin belajar dan membuat proposal. Makanya bisa berkembang bisnisnya dan kemudian menemukan dunia bisnis lelang. Dari sini kawan-kawan bisa tahu bahwa kalau punya ide dan gagasan bisnis, itu bisa dijual ke investor dan kita dapat saham lho!

Terus, bagi yang ingin sukses merintis bisnis hukum seperti lawfirm atau notaris, buku ini juga relevan karena ada pengusaha bidang hukum yang diprofilkan. Beliau awalnya hanya dimodali orang ketika buka kantor, lalu sukses berkembang menjadi lawyer BIG Ten di Indonesia. Padahal dia wanita lho... menarik deh...

Saya kira banyak hal penting dan perlu di jadikan inspirasi dan contoh dalam membangun bisnis. Menariknya buku ini, kita belajar dari orang2 yang sudah membuktikan, bukan sekedar teori. Buku ini bisa didapatkan di Gunung Agung, Gramedia, dan toko-toko buku besar lainnya.

Salam sukses

Kenapa lebih baik merinti wirausaha saat masih muda?

Kenapa lebih baik mulai merintis entrepreneur saat masih muda?


Merintis usaha atau memasuki dunia entrepreneur memang bisa dimulai disaat usia berapapun, termasuk saat sudah usia diatas 45 tahun. Ada juga yang sukses usaha justru ketika ia sudah diatas 45 tahun. Toh demikian, kalau kita berpikir resiko dan energi, bagaimanapun juga tetap lebih baik memulai usaha ketika usia muda (dibawah 40 tahun). Bila berpikir resiko, memulai usaha saat masih muda punya beberapa kelebihan. Ketika masih muda, biasanya energi dan sumberdaya yg dimiliki yang masih bisa lebih total dicurahkan untuk perintisan usaha.

Contohnya soal modal uang, permodalan kita bisa fokus untuk bisnis. Namun kalau mulai usaha saat anak-anak mulai membutuhkan biaya pendidikan dll, biasanya lebih ribet. Pokoknya ketika anak-anak mulai besar banyak kebutuhan deh. Usia muda biasanya juga lebih mobil untuk melakukan terobosan kesana-kemari. Katakanlah harus merintis pengembangan jaringan (network) bisnis hingga harus keluar ke berbagai kota dan harus nginap kesana kemari, juga masih lebih fleksibel. Apalagi kalau yang masih bujang. Bahkan nginep di pom bensin atau di fasilitas umum pantas-pantas saja. Maklum, biasanya dalam siklus entrepreneurship, tahap tersulit itu saat perintisan dan disitu biasanya butuh effort yang lebih.

Lebih dari itu, kalau toh apes-apesnya upaya perintisan usaha itu akhirnya gagal, maka karena masih muda, orang itu masih bisa banting stir kembali ke dunia profesional (karyawan). Perusahaan-perusahaan pada umumnya lebih suka mencari SDM yg masih muda dan energik. Kita masih bisa mengatakan teman2 atau relasi kita untuk kembali mengajar jadi dosen ataupun staff karyawan dimana kawan2 bekerja, misalnya. Pokoknya masih fleksible dan banyak peluang yang bisa dilakukan. Kalau toh gagal di suatu bisnis, masih bisa coba-coba bisnis yang lain kalau usianya masih muda.

Kiat memulai usaha persis seperti ini juga diterapkan Mohamad Nadjikh, pengusaha sukses eskportir produk perikanan laut dari Gresik. Dulu beliau juga merintis usaha ketika usia 31 tahun karena dengan pertimbangan seperti itu. Pendeknya, kalau toh gagal, masih bisa melakukan alternatif lain. Disamping itu di usia tersebut putra-putri beliau belum butuh biaya macam-macam. Yang jelas kini Pak Nadjikh sudah menjadi pengusaha sukses dengan karyawan lebih dari 5.000 orang. Padahal ia memulainya hanya dengan beberapa juta karena beliau bukan dari keluarga empunya. .

(Kiat-kiat lebih lengkap dalam membangun bisnis dari Pak Mohamad Nadjikh dan juga 9 pengusaha lainnya, bisa kawan-kawan baca selengkapnya di buku laris "10 Pengusaha Yg Sukses Membangun Bisnis dari 0", disusun Sudarmadi dan diterbitkan Gramedia).

Semoga sukses untuk kita semua, di bisnis dan di keluarga. Salam

Makanya, penting berguru pada banyak mentor

Beberapa waktu lalu saya membaca keluhan salah seorang peserta mailing list yang mengomentari soal adanya beberapa pemula usaha yang merasa 'tersesat' karena mengikuti kiat yang dianjurkan oleh seorang mentor kewirausahaan. Orang itu mengatakan telah banyak para peminat wirausaha yang akhirnya terjerembab dan punya hutang bahkan hingga miliaran rupiah karena mengikuti 'kiat berbisnis sebaiknya menggunakan uang orang lain sebagai modal alias utang. Intinya, dianjurkan bahwa berwirausaha itu harus berani dan modalnya pakai duit orang lain. Prinsip ini, katanya, telah membuat orang menjadi 'amat-berani' untuk berhutang kepada pihak lain untuk meraih permodalan. Tapi ya itu tadi, AKHIRNYA banyak yang gagal dan meninggalkan hutang dari yang puluhan juta, ratusan juta, bahkan ada yang hingga miliaran. Saya tentu ikut prihatin dan sedih bagi yang kena musibah itu.

Sebagai orang yang bersimpati kepada para peminat wirausaha saya hanya ingin memberikan sedikit masukan berdasarkan informasi yang saya peroleh. Saya hanya ingin mengatakan bahwa dalam menjalankan usaha yang memang punya resiko ini, jangan pernah hanya berguru pada satu mentor. Jangan bertaklid pada satu orang. Kita mesti memperbanyak sumber informasi, sumber referensi, mendapatkan kiat2 dan wisdom-wisdom sebanyak mungkin. Dan kemudian mencari mana saja diantara informasi dan kiat-kiat yang dikemukakan berbagai pengusaha itu yang paling cocok dan relevan buat bisnis kita dan latarbelakang kita.

Maklum, setiap pengusaha sukses punya pengalaman dan kiat sukses yang bisa jadi hanya relevan untuk industri dia sendiri, tapi tidak cocok untuk bidang yang lain. Seorang yang sukses di bisnis pendidikan sebut saja, belum tentu sukses ketika menjalankan usaha properti, aparel (fashion), ritel, dealership, atau agro bisnis misalnya. Inilah yang kadang-kadang kita tak tersadar sehingga 'asal ikut' kepada salah satu pengusaha, padahal pengusaha yang kita ikuti itu hanya expert untuk satu bidang saja dan banyak gagal di banyak bidang lainnya. Sekali lagi, kita jangan membabi-buta mencontoh satu pengusaha, tapi ambillah banyak 'air' dari banyak sumber mata air, kemudian dari situ kita harus menggabungkannya menjadi air terbaik dan segar dalam kolam kita.

Saya punya contoh menarik pengusaha yang menerapkan prinsip itu, yaitu Pak Harijanto. Kebetulan Pak Harijanto ini juga saya profilkan dan saya ulas panjang lebar di buku saya (Sudarmadi) yang sudah cetak ulang di Gramedia, "10 PENGUSAHA YANG SUKSES MEMBANGUN BISNIS DARI 0". Pak Harijanto ini pengusaha sukses di bidang sepatu. Karyawannya 9.000 orang. Ia alumni UNS yang dulunya benar-benar orang susah. Beliau ini juga punya banyak mentor yang selalu ia kagumi dan banyak ia ambil kiat-kiatnya. Contohnya, kalau ia belajar tentang SDM dan bagaimana mengelola anak-buah, maka ia banyak belajar dari Pak TP Rachmat. Pak TP Rachmat ini orang yang membesarkan Astra dan menata sistem di Astra hingga mampu menjadi perusahaan swasta terbesar di Indonesia yang sistem manajerialnya diakui paling baik di Indonesia. Entah sudah berapa puluh penghargaan diperoleh Astra sebagai best company dari berbagai lembaga. Pak Harijanto banyak belajar dari Pak TP Rachmat soal bagaimana mengelola orang dan menjadikan anak buah kita prodktif, loyal dan menampilkan kinerja terbaoknya. Tapi kalau bicara turn arround manajemen (membenahi perusahaan-perusahaan sakit), Pak Harijanto berguru pada pengusaha-pengusaha yang lain. Salah satu yang ia kagumi ialah Robby Djohan, mantan Presdir Bank Mandiri yang belakangan juga sukses jadi entrepreneur.

Jadi, intinya, kita harus belajar dari sebanyak mungkin orang terbaik yang ahli di bidangnya masing-masing. Harus diingat bahwa pengusaha-pengusaha sukses itu, sebagaimana kita, juga punya banyak keterbatasan dan mereka juga hanya expert untuk bidang dia saja. Makanya kita sendiri yang harus bijak menyaring berbagai masukan yang kita terima dan kita sesuaikan (harmonize) yang sesuai dengan konteks bisnis kita. Jangan pernah membabi-buta mengikuti anjuran atau kiat satu mentor saja. Jangan asal berani, termasuk berani berhutang. Bukankah dalam agama hutang itu juga ada pertanggungjawabannya di akherat? Jadi, semakin banyak sumber informasi dan mentor yang bisa kita ambil kiat-kiatnya, akan semakin baik bagi kita. Namun juga dibutuhkan kemampuan kita untuk memfilter mana yang paling cocok buat kita.


Thanks

Sudarmadi
Penulis buku '10 Pengusaha Yg Sukses Membangun Bisnis dari 0" terbitan Gramedia.

Banyak Jalan Menuju Sukses Bisnis

Jalan Menuju Sukses Bisnis Berbeda-Beda

Sebagai orang yang hampir tiap minggu bertemu entrepreneur sukses dari skala UKM hingga konglomerat yang punya ratusan perusahaan dan punya pesawat pribadi, saya sering ditanya sobat2 dan kawan yang baru merintis bisnis sendiri. "Dari pertemuan dan perkenalan dengan mereka, apah sih sebenarnya rahasa sukses bisnis mereka? Kenapa sih kok mereka bisa sukses dan bisnis mereka bisa membesar hingga skala korporasi?".


Tidak mudah menjawab pertanyaan seperti ini. Tapi kalau kalau saya boleh memberikan beberapa catatan dari yang saya dapatkan informasinya, bahwa jalan menuju sukses itu bisa berbeda-beda, sesuai pengalaman dan konteks bisnisnya masing-masing. Ada yang mengatakan kunci sukses berbisnis adalah 'menjaga kepercayaan karena dari dipercayalah kemudian muncul trust dari para mitra kita, termasuk pembeli". Biasanya mereka yang mengatakan seperti ini bisnisnya di bidang jasa dan bisnis banyak berurusan dengan klien-klien besar secara B2B. Dua kenalan saya yang satu kontraktor bisnis pertambangan dan satunya pengusaha kurir sama-sama mengatakan 'kunci sukses ialah menyenangkan orang lain dan menjaga hubungan baik". Bisa jadi karena dia banyak pelanggan korporat dan pekerjaan dia harus menservis setiap demand dari klien -- dalam artian positif, bukan menyogok.


Sementara kawan yang bisnisnya garmen, fashion, dan consumer good, cenderung mengatakan, "inti sukses berbisnis ialah membangun merek, membangun nama baik di hadapan semua konsumen. Karena itu tahapan tersulit ialah membangun merek dari produk kita agar dikenal konsumen secara luas, diakui sebagai produk yang baik dan dibeli". Pendapat ini tentu saja juga betul, sesuai konteks industri yang digeluti.

Bahkan diantara sesama pengusaha yang bisnisnya sama-sama B2B, atau sama retil ke mass consumer pun pendapatnya masih bisa berbeda-beda. Karena momentum sukses dari masing-masing orang itu juga beragam. Kalau ada diantara kawan2 yang sudah sudah membaca buku baru terbitan Gramedia "10 PENGUSAHA YG SUKSES MEMBANGUN BISNIS DARI 0" tulisan saya (Sudarmadi), mungkin bisa lihat contoh Pak Roni Lukito, pengusaha tas dari Bandung. Pak Roni ini punya merek tas yang amat terkenal di Indonesia seperti Exsport, Eiger, Bodypac, dll. Beliau hanya lulusan STM tapi sukses dan punya ribuan karyawan. Nah, saya lihat momentum yang membuat beliau bisa berkembang itu setelah dia diterima sebagai pemasok di Matahari. Untuk bisa diterima sebagai pemasok Matahari ia ditolak 13 kali, tapi terus mencoba dan kemudian setelah 13 kali baru berhasil diterima. Dari sinilah ia mulai mendapatkan 'ruang' untuk membuktikan bahwa produknya memang baik dan digemari konsumen. (Catatan: Pak Roni ini pengusaha sukses yg sangat low profile yang nggak pernah diwawancara media, makanya profilnya nggak pernah kelihatan di media massa. Saya beruntung sekali bisa dipercaya beliau sehingga mau saya profilkan).

Saya lihat, meskipun beliau ini sekarang bisnisnya sudah bermacam-macam, termasuk sukses membangun komplek-komplek perumahan mewah di Bandung dan bahkan punya klub pacuan kuda dan segala fasilitas lapangannya, namun momentum yang membuat dia sukses ialah ketika ia diterima sebagai pemasok di Matahari saat merintis bisnis tas itu. Karena dari situlah jalannya menjadi lebih lempang dan cepat. Saya kira tugas kawan2 yang ingin sukses membangun usaha sendiri ialah 'menemukan momentum seperti itu dan kalau sudah ketemu lalu menggenjotnya'. Kalau istilahnya Hermawan Kertajaya, menemukan G-Spot-nya. Maka kita tidak boleh lelah mencari 'kendaraan' agar bisa menemukan momentum seperti itu.

Tentu saja kita juga harus selalu rendah hati untuk belajar dari banyak orang. Entah kebetulan atau tidak, ternyata sebagain besar pengusaha sukses yang saya temui, juga sangat menyukai bacaan dan buku2 yang mendorong, seperti biografi mereka2 yang telah terbukti sukses. Mereka rajin menggali inspirasi dari berbagai sumber. Contohnya pengusaha kurir, Pak Budiyanto yang juga diprofilkan di buku '10 Pengusaha Sukses..." ternyata beliau sudah sangat sering membaca profil pengusaha-pengusaha sukses sejak masih mahasiswa D3 UGM. Entah dari buku, majalah, koran, dll. Saya kira pilihan 'suka membaca' seperti itu bisa dimengerti karena kalau kita sendiri mungkin belum tentu bisa ketemu pengusaha besar si A, B, dan C -- kalau harus mendengar dia ceramah di sebuah sesi seminar mungkin biayanya diatas Rp 2 juta -- namun kita bisa mengakses lebih murah cara2 berpikir dan kiat mereka dari hasil wawancara dengan media tertentu atau buku.

Disini, message-nya, sebenarnya orang sukses itu ialah orang mau berendah hati untuk selalu belajar, bisa dari buku2 bacaan dan media massa, bisa juga dari pembicaraan langsung dengan pengusaha yang telah lebih dulu sukses. Dan tentu saja juga orang yang selalu berusaha terus-menerus tanpa putus asa. Ibarat batu, sekeras-kerasnya batu kalau tiap hari kena tetesan air, lama-lama akan tergerus juga dan lama-lama batu itu bisa habis. Kita semua ini adalah air yang terus menetes itu. Selama kita tidak pernah lelah untuk 'menetes' maka yakinlah bahwa batu-batu itu akan habis. Dan jangan lupa, dalam setiap mengeluarkan 'tetesan' itu seraya bersyukur dan mengingat Sang Pencipta agar semua tetesan kita diberkahi. Jangan sampai kita sukses berbisnis tapi hati kita gersang kan?...

Semoga usaha kawan2 semua sukses sesuai rencana dan diberkati. Amin.

Salam hormat

Diantara Penyebab Kegagalan Berwirausaha

Penyebab Kegagalan Berwirausaha

"Banyak yang tidak menyadari, hambatan kultural, mental atau psikologis seringkali menjadi kendala atau bahkan menjadi pemicu kegagalan dalam merintis usaha. Contohnya perasaan gengsi. Sebagai entreprenuer, kalau mau sukses harus bersedia terjun ke lapangan, bersedia menawarkan ini-itu. Bisnis tak akan berjalan kalau urusan gengsi menjadi pertimbangan utama.

Sindrom itu terutama akan menjangkiti pengusaha pemula yang sebelumnya merupakan seorang profesional atau karyawan mapan. Biasanya ada perasaan gengsi untuk turun ke bawah. Bayangkan, sebelumnya tiap hari pergi kemanapun selalu memakai mobil bagus, tiba-tiba harus naik taksi atau malah naik kendaraan umum tanpa memakai dasi. Lebih jauh hal ini bisa membuat yang bersangkutan menjadi minder bila bertemu teman atau relasinya sehingga merasa memulai usaha sebagai sesuatu yang amat berat dan menyiksa. Padahal orang lain belum tentu melihat penampilannya. Yang penting cara kerja dan kemampuannya.

Tingginya tingkat pendidikan sering menjadi hambatan mental untuk terjun ke lapangan. Misalnya ada seorang sarjana lulusan perguruan tinggi negeri terkemuka tiba-tiba kok akan berjualan bakso. Biasanya akan ditanya oleh orang tua atau lingkungannya, ‘kamu sudah sekolah tinggi-tinggi kok hanya jualan baso?'. Cara berpikir seperti ini harus dihilangkan harus diputarbalikkan. Mestinya berpikiran tak masalah jualan baso, yang penting bagaimana caranya agar bisa menjadi penjual bakso terbesar di sebuah kota dengan 40-50 armada. Tapi kenyataannya memang seperti itu, masih banyak hambatan psikologis. Orang-orang kita kebanyakan nggak mau mulai dari yang kecil. Padahal kalau mau sukses kita harus berani mulai dari yang kecil".

Nasehat kewirausahaan ini disampaikan Mohamad Nadjikh, pengusaha pribumi sukses asal Gresik yang memperkerjakan karyawan lebih dari 5.000 orang. Padahal ia putera dari keluarga yang kurang mampu yang bisa dan selesai kuliah karena mengajar les ke berbagai sekolah di Bogor. Ia memulai bisnis dari duit pinjaman pamannya, namun kini, omsetnya sudah ratusan miliar. Kisah dan nasehat-nasehat berwirausaha dari Nadjikh selengkapnya bisa dibaca di buku "10 Pengusaha Yang Sukses Membangun Bisnis dari 0," terbitan Gramedia Pustaka Utama yang ditulis Sudarmadi.